Berbagilah walau satu rupiah! Bersedekah meski hanya seuntai senyum! Bersedekah, berbagi, dan bahagia ^^
Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Alasan Mencintainya

Kau tanya kenapa?

Jujur aku tak tahu.

Tanyakan saja padanya, mengapa mau merawat sejak bayi, tanpa gaji, dan sepenuh hati.

Lalu saat dia butuh, haruskah berkata nanti? Anak macam apa aku ini?!


Tapi kan dia bukan ibu kandungmu?

Apa itu masalah?

Cinta yang Sial

Hari Sial --> Suatu malam, karena satu dan lain hal, saya dan seorang teman terkunci di luar kontrakan. Akibatnya kami tak bisa masuk padahal malam semakin larut. Setelah berunding, akhirnya saya memilih kembali ke kosan baru. Sedangkan teman, dia memutuskan menunggu teman lainnya yang membawa kunci.

Sayang, teman yang ditunggu tak kunjung datang. Akhirnya dia tidur di tangga depan kontrakan berteman nyamuk, bising, dan udara yang dingin. Tentu kejadian ini melahirkan dongkol dalam hati. Membuat diri merasa sial dan bertanya-tanya, mengapa harus begini?

Beruntung, sebelum rasa dongkol menyelimuti hati, Allah kirimkan “tamu” untuk ingatkan diri. Sepasang suami istri beserta seorang anak yang “mesra” memulung, mengais sampah untuk bertahan hidup.

Aku Jatuh Cinta

Kawan, pernakah kau jatuh cinta? Bagaimana rasanya?

Aku juga pernah, bahkan berkali-kali, dan ajaibnya cinta itu selalu jatuh pada hal yang sama, yaitu keluarga.

Sejak kemarin mataku selalu basah mengenang mereka. Terutama ibu susu, perasaan rindu dan bersalah ini selalu menghantui. Seharusnya, saat ini, dalam rentanya, dalam sakit yang melanda, aku ada di sisinya. Sebagaimana dia yang tak pernah meninggalkan ketika sakit, seperti dirinya yang setia menemani sejak bayi, dan seperti cintanya yang selalu tulus nan menghangatkan jiwa.

Saat ini kakinya sakit lagi. Saking sakitnya susah untuk dibawa tidur. Tapi aku tahu ada yang lebih sakit dari itu. Menahan rindu berpisah dari anak manjanya ini. Karena seorang ibu selalu rindu. Sebab harapan terbesar seorang ibu adalah melewati hari tua bersama anak yang berbakti menjaganya.

Cinta Sepanjang Waktu

Siapakah yang pertama bangun di pagi hari?
Dalam sisa kantuknya mempersiapkan segala kebutuhan keluarga? 
Siapakah yang terakhir tidur di malam hari?
Dalam lelahnya raga, masih memikirkan keselamatan semua penghuni?
Ibu, satu kata yang mampu menjawab berbagai tanya. Ibu, satu kata yang bisa mengobati segala sakit. Ibu, satu kata yang paling merdu, hadiah dari Tuhan untuk hamba-hambaNya.
Cinta ibu sepanjang waktu. Sejak jabang hingga jadi mayat, dari bangun hingga tidur lagi, dan dari hati selalu tulus menemani.

Cerita Tentang Hidup, Cinta, dan Perpisahan

"Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa."
(QS. 2 ayat 197)


Hidup adalah perpisahan maka jadilah manusia yang berarti dalam setiap pertemuan. Hidup itu perantauan sebab semua akan kembali ke “kampung halaman”. Hidup ini “abadi” karena setelah dunia ada akhirat yang menanti.

Maka berbekallah setiap jiwa, dan sebaik-baik bekal adalah takwa.
***

Di bulan Juni beberapa tahun yang lalu, di tempat wudhu sebuah mesjid, saya diam merenung memikirkan cerita hidup tujuh belas tahun lalu. Untuk sebagian orang, mungkin itulah saat terindah dalam hidupnya. Namun buat saya, diusia yang genap 17 tahun, entah mengapa hati lebih memikirkan kematian yang pasti mendekat.

Mungkin hal ini tak lepas dari masa kecil yang senantiasa ditemani cerita perpisahan dan kematian. Kedua kakek, ibu, kakak, nenek, ayah, dan yang terakhir nenek sebelah ibu berturut-turut pergi meninggalkan saya. Kecuali nenek sebelah ibu, semuanya terjadi di usia yang belum genap sebelas tahun.

Jujur, dalam setiap perpisahan selalu ada luka dan kenangan pahit yang mesti dirasakan. Kenangan yang mau tak mau akan selalu teringat. Bukan untuk menyiksa diri tapi dalam kenangan itu selalu ada bagian manis yang terlalu indah dilupakan.

Satu hal yang saya pelajari dari pengalaman masa kecil itu, bahwa hidup ini adalah perpisahan. Entah bersifat sementara atau selamanya, hadirnya sebuah ketentuan. Mau tak mau, suka tak suka, semua akan berpisah dan kembali. Setiap orang akan merasakan perpisahan dengan yang dicinta. Karena kematian pasti adanya.

Cinta yang Selalu Lebih Besar

Rabu lalu saya pulang kampung. Sakit mama yang semakin parah memaksa diri mengubah rencana. Keinginan untuk bepergian ke Singapura, Malaysia, dan beberapa pulau di Indonesia harus ditunda dulu. Bahkan ajakan teman ke Mesir mesti dinomor duakan. Semua itu untuk memenuhi permintaan mama.

Bagi yang telah membaca pasti kenal siapa mama. Beliau adalah ibu susu yang merawat saya sejak kecil. Wanita sederhana yang telah mengajak diri menyalami satu bagian kecil makna cinta sejati. Cinta tulus tanpa pamrih. Cinta yang hanya memberi tak harap kembali. Bagai mentari yang menyinari bumi. Hangat menentramkan.

Seperti tahun yang lalu-lalu saya ingin membuat alasan untuk tak pulang. Namun ucapannya tempo hari membuat jantung berhenti sejenak. Membuat hati melupakan segala rencana yang telah disusun. Dalam suaranya yang berat, beliau hanya berkata: “Nak, banyak-banyaklah berdoa. Semoga saat kau pulang nanti mama masih hidup.” jleb

Tataplah Dia!

Suatu malam saya pernah membaca sebuah buku. Dalam pengantarnya ada sebuah kata yang menggetarkan hati. Semoga menggetarkan hatimu juga kawan.

Hari Ini

“Jika ditakdirkan untuk menulis sebuah buku maka kata pertama yang akan kutulis adalah I B U" (Ibu dan Cinta Pertama)
Hari ini saya bahagia sekali. Karena sebuah impian telah selesai terpenuhi. Tulisan tentang ibu -seperti janji- telah selesai. Sebuah asa membumbung, semoga pihak penerbit merestui.

Tentang Mama


Dari beliau pula aku menjadi tahu bahwa cinta tanpa pamrih itu akan selalu terbalas dengan cinta yang lebih besar. Cinta yang tulus itu, senantiasa membekas dihati orang yang dicintai, dan kasih sayang seorang ibu itu, selalu penuh dengan kejaiban-keajaiban yang tak bisa dilukiskan dengan kata. Andaipun ada kata yang bisa melukiskannya maka aku sebut itu "CINTA". (Senyum Syukur-Mama dan Cinta Kedua)
***

Booklet Pribadi


“Kawan, kadang kita bertanya kenapa,
tapi yakinlah apa yang Allah tuliskan itulah yang terbaik.”
(Senyum Syukur - Ibu dan Cinta Pertama)


Ibu dan Cinta,
Sebuah Persembahan cinta.

Ini adalah booklet pribadi yang berisi kumpulan Catatan hati seorang anak.
Ada yang berminat?
Tampak Depan

Tampak Belakang



Ibumu, Ibumu, Ibumu, Ayahmu

"Saat lahir, kita tak bisa memilih ibu yang akan melahirkan kita, namun saat dewasa kita bisa memilih calon ibu terbaik yang akan melahirkan anak-anak kita, pilihlah yang baik agamanya, niscaya kau takan menyesal" Senyum Syukur
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (Muttafaqun Alaihi)

Tentang Tiga Ibu dan Seorang Ayah

Jika mengingat hal itu, kadang membuatku bersyukur karena diberi kesempatan hidup oleh Allah, tapi kadang juga merasa bersalah karena menjadi penyebab kematian ibuku. Namun, itulah takdir yang Allah tuliskan untukku dan ibuku. Kita kadang bertanya kenapa, tapi yakinlah apa yang Allah tuliskan itulah yang terbaik. (Senyum Syukur-Ibu dan Cinta Pertama)

Kawan, dari beliaulah aku belajar bahwa ketika Allah mengambil sesuatu yang engkau cintai, Dia akan menggantikan dengan sesuatu yang sama atau lebih baik darinya jika kau rela dan ikhlas dengan apa yang telah Dia tuliskan untukmu.

Dari beliau pula aku menjadi tahu bahwa cinta tanpa pamrih itu akan selalu terbalas dengan cinta yang lebih besar. Cinta yang tulus itu, senantiasa membekas dihati orang yang dicintai, dan kasih sayang seorang ibu itu, selalu penuh dengan kejaiban-keajaiban yang tak bisa dilukiskan dengan kata. Andaipun ada kata yang bisa melukiskannya maka aku sebut itu "CINTA". (Senyum Syukur-Mama dan Cinta Kedua)

“Wan, mintalah pada Allah. Allah malu jika tidak mengabulkan doa anak yatim yang meminta padaNya” seperti itulah nasehat yang senantiasa beliau ulangi sejak aku menjadi yatim. (Senyum Syukur-Bunda dan Cinta Ketiga)

Senyum bangganya itu adalah hadiah yang sangat berarti bagiku. Senyum yang selalu memotivasiku untuk terus juara. Senyum yang akan selalu ku kenang. Senyum yang tak pernah aku lihat semenjak peristiwa itu. Bahkan meskipun aku menjadi yang terbaik di sekolah, senyum itu telah hilang dan tak dapat aku saksikan lagi. (Senyum Syukur- Ayah, Sebuah Catatan DariHati)

Untukmu Para Ibu dan Calon Ibu

“Seorang anak yang rusak masih bisa menjadi baik asal ia pernah mendapatkan pengasuhan seorang ibu yang baik. Sebaliknya, seorang ibu yang rusak akhlaknya, hanya akan melahirkan generasi yang rusak pula akhlaknya. Itulah mengapa yang dihancurkan pertama kali oleh Yahudi adalah wanita.” (Muhammad Quthb)

"Ibu adalah sebuah sekolah, jika kau persiapkan ia dengan baik, maka kau telah mempersiapkan generasi yang baik" (Syair Arab)

"Pesan saya untuk para ibu, anak Ibu memang akan hidup kekurangan materi jika Ibu tidak bekerja. Tapi saat Ibu memaksa bekerja di saat yang salah, anak-anak itu akan kehilangan cinta, dan itu lebih bahaya" (Senyum Syukur- Apa Kabar Fadhil)

Muslimah bagaikan HATI dalam umat ini. Jika mereka baik maka akan baik pula umat ini, Namun jika mereka rusak maka umatpun akan rusak. Mengapa? Karena Umat yang tangguh hanya akan terlahirdari Ibu yang tangguh pula. (Senyum Syukur)
01. samar betul bagi kita masa depan yang dijelang anak-anak | apakah di masa depan ia masih taat Islam atau berontak 
02. kita jalani Islam dengan penuh ketaatan | namun tiada jaminan pada keturunan 
03. walau pada masa kecil anak kita dengan Islam sudah terbiasa | di masa depan akan banyak waktunya diajar teman bukan orangtua
04. mendidik anak di zaman ini benar mengkhawatirkan | disaat dosa dan maksiat menjadi bagian hidup dan kewajaran
05. maka kita takjub dengan ibu yang melalaikan saat anak bertumbuh | padahal itulah saatnya dia belajar agama pada ibunya secara penuh
06. uang takkan pernah ada cukupnya | masa perkembangan anak tiada gantinya
07. dengan beribu alasan peran ibu mulai hilang terganti | digantikan oleh pembantu yang dengan agama tidak mengerti?
08. sementara wanita berbangga dengan berapa banyak pnghasilan dirinya | mencoba mencari eksistensi diri dari uang yang tidak seberapa
09. "lalu bila tidak bekerja untuk apa tinggi bersekolah?" | inilah pemahaman salah kaprah pangkal dari generasi musibah
10. justru diperlukan ibu berpendidikan tinggi | untuk mendidik anak-anak agar ranggi
11. jangan berpikir seolah sayang bila pendidikan tinggi | hanya untuk mendidik anak dan rumah tangga ia dipakai
12. seolah-olah ibu rumah tangga pekerjaan tanpa perlu pengetahuan | padahal jadi ibu adalah pekerjaan sulit penuh tantangan
13. menjadi idola bagi anak-anak itu usaha luar biasa | tak banyak wanita yang sukses melakukannya
14. jangan heran bila satu saat anak melawan ibunya | wajar saja dia lebih sering bertemu teman dibanding orangtua
15. uang tidak bisa membeli ketaatan dan kepatuhan anak | atas waktu ibunya bukan kantor yang punya namun anak lebih berhak
16. tapi terkadang hidup memang menyudutkan wanita yang terpaksa bekerja | maka kita bertanya pada suaminya yang seharusnya dia
17. atau ada wanita hidup membesarkan anak sendiri | kita hanya berdoa Allah beri kekuatan kesabaran dan solusi
18. namun nasihat ini bagi wanita-wanita yang mungkin belum sadar | bahwa ada yang jauh lebih penting dari uang dan jabatan sekedar
19. karena karir terbaik wanita adalah menjadi ibu | maka pantaskan diri dengan iman dan ilmu
20. gagal pekerjaan bisa diulang kapan saja | gagal menjadi ibu hanya penyesalan tersisa
21. atau jangan-jangan emas perak sudah lebih menarik dari surga | hingga kita membandingkan antara harta dan pahala?
22. bila tidak tahu darimana memulai jadi ibu yang baik bagi anak | maka mulailah dengan memberikan waktu baginya yang paling banyak
23. karena taat itu asalnya dari cinta | cinta tumbuh dari waktu bersama-sama
24. lebih banyak berkisah padanya lebih banyak memeluknya | mudah-mudahan lebih taat pada Allah jadinya dia karena ibunya
25. semua sulit dan susah itu akan terganti sempurna | saat mereka berucap "karena Allah aku menyayangi bunda" (Felix Siauw)
“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin bagi saya untuk bekerja pada waktu itu. Namun, saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu." (Ainun Habibie, Tahun-tahun Pertama)

Untuk calon Ayah: "Saat lahir, kita tak bisa memilih ibu yang akan melahirkan kita, namun saat dewasa kita bisa memilih calon ibu terbaik yang akan melahirkan anak-anak kita, pilihlah yang baik agamanya, niscaya kau takan menyesal"

Untuk mendapatkan yang terbaik, tentunya harus baik dulu. "Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)." (QS An Nur:26)

Mari memperbaiki diri!


Apa Kabar Fadhil?


"Pesan saya untuk para ibu, anak Ibu memang akan hidup kekurangan materi jika Ibu tidak bekerja. Tapi saat Ibu memaksa bekerja di saat yang salah, anak-anak itu akan kehilangan cinta, dan itu lebih bahaya"

Semalam saya menelpon ke rumah. Tak disangka yang menjawab anak kecil. Suaranya tak asing. Siapa lagi kalau bukan keponakan saya, Fadhil.

“Asalamu alaikum” sapa saya.
“Wa alaikumusalam” jawabnya.
“Fadhil, umi mana?” saya bertanya kaget.
“Umi lagi sholat, aba lagi dirumahnya oma, nenek dirumahnya tante” jawabnya menjelaskan.
“Fadhil sedang apa?” saya bertanya lagi.
“Tadi Fadhil lagi main basket, kemudian Fadhil dengar suara HP, karena umi lagi sholat maka Fadhil yang angkat” jawabnya dengan logat cadelnya.

Kamipun berbincang-bincang sambil menunggu uminya (kakak saya) selesai mengerjakan shalat.

***

Perbincangan yang singkat itu menyisakan rindu dalam hati. Rindu dengan kepolosan, kepintaran, kecerdikan, kenakalan, kemanjaan, dan semua hal yang melekat pada diri keponakan saya itu.

Jika pulang kampung, dia selalu bersama saya. Kami menghabiskan waktu bermain bersama, bertengkar bersama, dan menghibur Mama bersama. Entah berapa kali saya membuat ia menangis, tapi tak pernah bosan-bosannya ia bermain dengan saya. Bahkan jika saya tak di rumah dia akan selalu mencari-cari saya.

Meskipun dia masih kecil namun banyak hal yang dapat saya pelajari dari dirinya. Untuk tulisan kali ini, saya ingin berbagi kisah indah penuh hikmah bersamanya. Semoga kisah ini bisa menghibur hati orang-orang yang gundah, menentramkan yang cemas, dan mengukir kebahagian pada hati yang sedih.

Fadhil adalah anak kakak saya yang paling cantik, sebab dialah satu-satunya saudara kandung perempuan yang saya miliki. Saya harap dia tersenyum manis membaca tulisan ini, sebab sering saya dengar dari Fadhil dan abanya kalau dia menangis membaca tulisan-tulisan saya yang lalu-lalu.

Alhamdulillah, saat ini kami semakin dekat meskipun jarak ribuan kilo menjadi pemisah. Meskipun saya adiknya, tak segan-segan ia bertanya atau meminta saran dari saya. Pernah ada tawaran mengajar untuknya di suatu sekolah. Sekolah yang lumayan bagus. Dengan bimbang dia meminta saran dari saya.

Dengan jujur saya menyuruhnya untuk tidak bekerja di luar rumah. Sebab, menurut saya itu adalah lebih baik baginya. Alhamdulillah dia mengikuti saran itu. Padahal setahu saya dia sangat ingin menjadi guru. Terimakasih Ka’ telah mempercayai saya.

Memang mendidik anak orang lain itu tidak salah, tapi jangan sampai karena sibuk mendidik anak orang lain, anak kandung kita menjadi anak pembantu. Coba tengok perkataan indah dari seorang Ibu Ainun;
“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin bagi saya untuk bekerja pada waktu itu. Namun, saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu. (Ainun Habibie, Tahun-tahun Pertama)” 
Hebat bukan?

Pesan saya untuk para ibu, anak Ibu memang akan hidup kekurangan materi jika Ibu tidak bekerja. Tapi saat Ibu memaksa bekerja di saat yang salah, anak-anak itu akan kehilangan cinta, dan itu lebih bahaya.


***

Kembali ke Fadhil, atas izin Allah berkat pilihan ibunya untuk tidak bekerja diluar rumah, alhamdulillah pada usia tiga tahun Fadhil sudah bisa membaca. Sekarang dia sudah TK, sudah bisa baca alquran, kalau tidak salah bacaannya sudah di juz tiga, serta hafal surat-surat pendek dan doa-doa harian. Sebagai paman, saya sangat senang dengan semua itu. Semoga ia bisa istiqomah dan menjadi anak yang shaleh.

Satu hal lagi, saat menelpon semalam, saya mendengar kabar yang sangat menakjubkan tentang keponakan kami yang satu ini. Diusianya yang sangat belia itu ia telah diajarkan berbagi oleh bapak dan ibunya. Tahukah kau kawan, untuk membiayai wisuda(TK)nya, ia memberikan seluruh tabungan yang ia miliki untuk abinya. Kalau tak salah tabungannya sudah mencapai Rp. 450.000,00. Padahal setahu saya uang itu akan ia tambahkan untuk membeli sepeda impiannya.

Yang ingan saya bagi, saat Fadhil baru saja bisa membaca, ada satu pengalaman unik dengannya. Seperti yang kita rasakan bersama, saat pertama kali bisa membaca, semua tulisan yang kita lihat pasti ingin dibaca. Begitupun dengan Fadhil.

Setelah membeli makanan ringan yang bernama Tango, diapun mulai membaca tulisan yang tertera pada pembungkusnya. Ta-Ngo, begitulah dia membacanya.

“Bukan tango Fadhil, tapi tenggo” begitu sela saya padanya. Dengan ekspresi serius dia kembali melihat pembungkus makanan ringan itu dan berkata: “Ta-ngo bukan tenggo”

Saya kembali membetulkan dengan menjelaskan bahwa tidak semua tulisan dibaca sesuai tulisannya. Dan bla,bala,bla.. sampai saya kehabisan kata.

Tapi karena dia belum paham dengan semua itu, maka dia tetap bersikeras bahwa itu tango bukan Tenggo. saya pun menyerah dibuatnya.

Apa yang dapat dipelajari dari kisah ini?

Kawan, dalam banyak hal kadang kita berperilaku seperti Fadhil. Merasa benar padahal sebenarnya salah. Merasa banyak ilmu padalah hanya seujung kuku.

Parahnya lagi, meskipun dengan kondisi demikian banyak diantara kita tak mau belajar lagi. Jika kita kecil seperti Fadhil maka itu wajar, dia kan masih anak kecil. Tapi jika yang berperilaku seperti itu adalah orang besar maka musibah itu namanya.

Saya pun kadang seperti itu, dan mungkin Anda juga demikian. Kita terjebak oleh ego masing-masing dan merasa paling benar. Bukan saja pada sesama teman, orang tua ataupun guru, bukan juga ustad, bahkan pada Sang Pencipta terkadang juga demikian.

Sungguh inilah musibah yang paling parah. Orang yang merasa lebih tahu dari Allah adalah mereka yang senantiasa mempertanyakan takdir. Kenapa begini, kenapa begitu. Kanapa yang ini dan kenapa bukan yang itu. Hingga iman yang mahal itu menjadi rapuh dan tipis. Kemudian goyah dan tinggal menunggu waktu untuk hancur.

Jika iman telah tiada, lalu di mana jiwa bisa menemukan ketenangan dan kebahagiaan?

Kawan kita boleh berencana tapi yakinlah rencana Allahlah yang terbaik.

Kita kadang bertanya kenapa, namun percayalah bahwa apa yang Allah takdirkan itulah yang terindah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu , padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui" (QS Al-Baqarah ayat 216)
Dalam hidup ini banyak hal terjadi tanpa kita ingin dan rencanakan. Selama kita berusaha berjalan dalam rambu-rambu-Nya maka tetaplah ikhlas dalam mengarungi jalan itu. Kemudian bersyukur dan tersenyumlah dan jadilah manusia yang paling bahagia.

Ingat, jangan so’ tahu dihadapan Dzat yang Maha Tahu. Dialah sebaik-baik Pembuat rencana dan Dialah Sebaik-baik Pemberi balasan.

Wallahu A’lam. Semoga bermanfaat.


Ibu dan Cinta Pertama


“Jika ditakdirkan untuk menulis sebuah buku maka kata pertama yang akan kutulis adalah I  B  U"

Ibu adalah gambaran cinta yang sangat luar biasa, satu kata yang penuh keajaiban. Saat mengandung, melahirkan, merawat, dan membesarkan, rasanya rasa cinta itu tak pernah berkurang, dan keajaiban-keajaiban itu senantiasa ada dan terus bertambah.

Bunda Dan Cinta Ketiga

“Tulisan untuk Bunda, wanita ketiga yang mengajarkanku tentang cinta yang mengharukan"

Untuk tulisan ketiga ini, terus terang aku mengalami kesulitan dalam memulainya. Mungkin karena pengetahuanku yang sangat sedikit mengenai beliau, sehingga aku tak bisa merangkai kata untuk menggambarkan rasa cintaku ini pada beliau.

Mama dan Cinta Kedua


"Ini masih tentang keajaiban cinta. Dari seorang yang kupanggil mama. Seorang wanita yang menyusui dan membesarkanku"

Mama, dia adalah wanita kedua dalam hidupku. Wanita yang sempat kukira adalah ibu kandungku itu, juga mengajarkanku arti sebuah cinta tanpa pamrih. Aku bukan anaknya, dan beliau bukan ibuku, tapi jika ditanya, mungkin aku lebih menyanginya dari ibu kandungku dan ia lebih mencintaiku dari anak kandungnya. Ini hanya prasangka, sebab dalam hati siapa yang tahu.

Ayah, Sebuah Catatan Dari Hati

Kawan, lama tak jumpa. Semoga kau baik-baik saja. Terus terang aku rindu padamu dan juga rindu untuk menulis di blog ini. Tapi, untuk saat ini ada banyak hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Untuk itu aku minta maaf.

Baiklah, kali ini aku akan bercerita tentang peristiwa yang sampai sekarang paling berkesan dalam hidup. Peristiwa yang sangat istimewah, penuh kenangan, pelajaran, air mata, cinta dan kerinduan. Ya, itulah peristiwa yang terjadi antara ayah dan aku.

Peristiwa ini terjadi saat aku masih duduk di kelas empat SD. Kira-kira saat itu umurku baru sepuluh tahun.

Seminggu atau beberapa hari sebelum peristiwa, terjadi kesepakatan antara aku dan ayah. Setelah pulang sekolah aku bebas kemana saja, dengan syarat setiap pukul tujuh malam harus sudah pulang ke rumah. Kesepakatan ini diambil karena beberapa hari sebelumnya, aku selalu pulang larut malam. Kira-kira pukul sembilan atau sepuluh. Benar kawan, untuk anak seusiaku saat itu, hal ini sudah dibilang larut.

Alhamdulillah sejak kesepakatan sampai sehari sebelum hari H, aku masih setia memenuhi janji itu. Benar, setiap pukul tujuh malam, aku sudah berada di rumah.

Nah, pada hari H-nya, pada hari peristiwa itu terjadi, semua masih berjalan seperti biasa.

Setelah pulang sekolah, aku langsung “kabur” dari rumah. Bermain kesana-kemari sesuka hati. Sore harinya ayah masih dengan pekerjaan yang ia lakukan sejak beberapa hari lalu. Beliau memperbaiki kandang ayam kami yang sudah rusak parah.

Pada sore hari itu juga, ibu susuku pergi menengok anaknya di kampung. Jarak antara rumah dan kampung sekitar sejam jika mengendarai angkutan kota. Saat itu beliau hanya berpamitan pada ayah tanpa berpamitan padaku. Sebab jika tahu, aku akan menangis untuk ikut dengannya atau menahan beliau untuk tidak pergi.

Kawan meskipun beliau bukan ibu kandungku, aku telah menganggapnya seperti ibu kandung. Asal kau tahu, ibu kandungku telah wafat sejak aku berumur sekitar satu tahun. Beliaulah yang merawatku sejak kecil. Sehingga sampai saat itu aku tak mau berpisah atau dipisahkan dengannya. Saat berpamitan, ayah sempat menahannya untuk tidak pergi. Meskipun beliau menyampaikannya dengan bercanda tapi seakan-akan ada sesuatu yang ingin disampaikan namun tak berani untuk berterus terang.

Masih sore yang sama, saudara sepupu yang membantu ayah memperbaiki kandang, juga berpamitan pergi ke rumah paman. Jarak rumah paman dengan tempat tinggalku sekitar empat jam kalau mengendarai angkutan kota.

Setelah shalat Magrib atau menit-menit menjelang isya, kakak perempuanku yang tercantik pergi minta izin untuk ke pesta temannya di desa seberang. Awalnya ayah tak mengizinkan, tapi setelah dipaksa, akhirnya beliau memberi izin. Namun seperti pada ibu susu, beliau seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi tak berani. Beliau hanya menggunakan isyarat-isyarat dalam perkataannya.

Dan aku, tepat pukul tujuh malam, telah selesai menonton flim kesukaan. Hatiku berbisik untuk pulang seperti janji pada ayah. Namun saat hati ingin pulang, teman-teman mengajakku untuk menonton PS (play station). Karena penasaran aku ikut dengan mereka.

Saat melangkah ke tempat penyewaan PS, aku melewati rumah tapi dari jarak yang cukup jauh. Ketika itu mata sempat menoleh ke arahnya. Dari sana hati rasakan pancaran kesunyian, kesepian, dan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata. Hatiku memaksa ingin pulang, tapi kakiku telah lebih dulu melangkah menjauh darinya.

Sekitar pukul 21.30 aku mulai merasakan kantuk. Sehingga tanpa disuruh hati berinisiatif untuk pulang.

Setelah tiba, ku dapati rumah dalam keadaan sunyi. Aku, seorang bocah kelas empat SD, bingung apa yang harus diperbuat. Sedang dalam hati ada perasaan aneh yang tak terdefinisi.

Aku pun mencari-cari kemana penghuni rumah pergi. Kemana ayah, ibu susu,dan kakak-kakakku, kemana mereka pergi?

Namun, tiba-tiba dari arah sekitar kamar mandi terdengar suara batuk. Dari suaranya aku tahu itu ayah. Lantas aku segera menuju ke sumber suara. Di sana ku temukan ayah sedang batuk dengan batuk yang tak henti-hentinya.

Setelah beberapa menit, beliau berjalan ke dalam rumah dengan sempoyongan. Aku perhatikan keseimbangannya seakan hilang. Hati ingin menolongnya untuk berjalan ke kamar tidur, tapi apalah daya, tubuh yang kecil tak bisa berbuat apa-apa dengan bebannya yang begitu besar.

Dengan sisa-sisa tenaga, ayah berjalan ke kamar menuju ranjang. Dari sudut dinding ke sudut lainnya beliau sandarkan tubuhnya. Ketika akan sampai di kamar tidur, kakak tertua datang. Rupanya dia pergi ke rumah nenek untuk menggambil obat salah seorang keluarga kami. Seorang yang dulu tinggal bersama kami dan beberapa hari yang lalu pindah ke rumah nenek. Beliau sudah berusia lanjut dan sakit-sakitan. Beberapa hari lalu ketika masih tinggal di rumah kami, suami saudara nenek memberinya obat batuk. Nah, obat itulah yang diambil oleh kakak.

Dalam sekejap kakak memapah ayah hingga berbaring di kamar tidur. Kemudian beliau mulai mengucapkan kalimat: laa ilaaha illallah. Ayah berusaha mengikuti kalimat itu dengan sisa-sisa nafasnya. Sedangkan aku hanya bisa diam bercampur bingung dengan kejadian yang sangat cepat ini. Yang jelas mataku mulai berkaca-kaca dan hatiku mulai gelisah.

Dalam situasi yang kalut itu, entah kenapa aku keluar kamar menuju teras rumah. Saat itu entah apa yang ada dipikiranku. Terus terang hati bingung bercampur sedih.

Setelah dua atau tiga menit, aku kembali ke kamar. Dan.. dan.. dan..

Dan aku dapati ayahku telah pergi. Pergi untuk selamanya, meninggalkanku yang saat itu masih seorang bocah kelas empat SD.

Tanpa dikumando airmatapun mulai berlinang. Aku diam membisu. Kemudian ku pandang wajah kakak, matanya merah menahan tangis. Dengan penuh ketenangan atau berusaha untuk tenang, dia menyuruhku memanggil paman yang tinggal di samping rumah serta tetangga-tetangga lainnya untuk mengabarkan bahwa ayah telah wafat.

Aku berlari kencang ke rumah paman. Setelah tiba, aku kabarkan padanya. Namun dari raut muka dan suaranya menandakan beliau tidak percaya. Begitupun dengan tetangga-tetangga lainnya, mereka tidak percaya. Karena mereka tahu, ayah hingga malam itu masih dalam keadaan sehat wal afiat. Bahkan sore harinya masih memperbaiki kandang, masih bisa mengangkat bambu-bambu yang besar, dan masih bisa tertawa dan bercanda dengan mereka yang lewat depan rumah.

Bahkan kebanyakan dari mereka mengira bahwa aku salah sebut. Mereka mengira bahwa yang meninggal adalah orang yang dulunya tinggal ditempat kami. Orang yang dikunjungi kakak untuk meminta obat batuk tadi.

Setelah mengabarkan, aku langsung pulang ke rumah. Ku dapati rumah sudah penuh dengan suara tangis. Terlebih ketika kakak perempuan tiba, tangisan itu kian menggema. Betapa terpukulnya ia. Semua yang keluar dari mulutnya adalah kalimat penyesalan. Menyesal karena bersikeras untuk pergi ke pesta temannya.

Ibu susu.. beliau pulang dengan linglung tanpa sepenuhnya sadar. Beliau tidak percaya kalau ayah sudah meninggal. Sampai-sampai beliau tak sadar kalau sandal yang dipakainya berbeda antara satu dan lainnya.

Kakak tertua.. beliau tentunya sangat sedih. Tapi beliau memiliki pengendalian diri yang kuat. Ada yang berkata kalau malam itu dia shalat sambil menangis. Dia mengeluh kepada Sang Pemilik Ruh, Allah Ta’ala.

Dan aku.. aku tak ingat lagi peristiwa setelah itu. Yang pasti aku tertidur di tumpukan bantal karena lelah menangis.


***

Kawan, saat menulis tulisan ini, aku teringat masa-masa indah bersama ayah.

Saat beliau membuatkan aku panah dari bambu sehingga tangannya terluka.

Saat beliau merawat ketika kuku kakiku hampir lepas. Sewaktu kecil kuku kakiku sering lepas. Aku tak tahu apa sebabnya. Yang jelas ayah selalu menggendong jika aku sakit seperti itu.

Saat bermain bulu tangkis dengannya. Kawan, saat itu kami menggunakan kok dari bulu ayam yang di pasang ditongkol jagung beserta raket yang terbuat dari papan atau tripleks. Meskipun sederhana tapi beliau selalu mewujudkan apa yang ku minta.

Ketika beliau membelikan pistol saat aku sakit. Setelah itu aku langsung sembuh saking gembiranya.

Saat aku memakai sepedanya hingga beliau terlambat masuk kerja. Beliau tidak marah kawan.

Saat aku membuat martabak mi dengannya. Kami mulai setelah shalat isya. Tiga bungkus mi dan tiga telur habis, tapi martabaknya tak jadi-jadi. Beruntung ibu susuku bangun, sekali buat langsung jadi.

Dan yang paling berkesan buatku adalah saat beliau mengambil raport. Kawan beliau tak pernah absen untuk menerima raport. Apapun pekerjaan dan kesibukkannya, beliau selalu hadir untuk menerima raportku. Dengan sepeda kesayangannya beliau selalu datang tepat waktu. Dan saat namaku disebut sebagai juara kelas, beliau tersenyum bangga padaku. Senyum bangganya itu adalah hadiah yang sangat berarti bagiku. Senyum yang selalu memotivasiku untuk terus juara. Senyum yang akan selalu ku kenang. Senyum yang tak pernah aku lihat semenjak peristiwa itu. Bahkan meskipun aku menjadi yang terbaik di sekolah, senyum itu telah hilang dan tak dapat aku saksikan lagi.

***

Kawan, hidup tanpa orangtua itu sunguh tidak mengenakan. Saat sakit, kalah, atau bahkan bahagia, kepada siapa kau berbagi? Saat menang, siapa yang akan memelukmu dengan bangga? Saat kalah, siapa yang akan menyemangatimu untuk bangkit lagi? Saat terluka, siapa yang akan mengobati lukamu? Saat mendapat peringkat pertama, adakah orang yang lebih bangga padamu melebihi ayah? Atau saat kau patah hati, adakah yang lebih tahu luka hati melebihi ibu?

Kawan, seandainya anak-anak yatim itu tidak mengenal Penciptanya, maka mereka akan terus merasa hampa, sunyi, sepi, sedih, tak bahagia dan putus asa dalam menjalani hidup ini. Namun hati yakin, dalam setiap kejadian selalu ada hikmah yang dapat dipetik. Kita memang bisa bertanya, tapi yakinlah bahwa apa yang Allah تعالى tuliskan itu jauh lebih baik dan indah dari apa yang kita sangka.

Sungguh, sekali lagi hidup tanpa orangtua itu sungguh sangat tidak mengenakan, tapi lebih tidak mengenakan lagi, punya orangtua namun hanya menyia-nyiakan mereka, punya orangtua namun tidak bisa membahagiakan mereka, punya orang tua namun selalu menyakiti hati mereka, punya orangtua tapi selalu membuat mereka kesal, marah, dan menangis, punya orangtua namun lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman, punya orangtau namun tak pernah membalas kebaikan mereka meskipun hanya dengan kecupan hangat dan ucapan terimakasih, punya orangtua namun tak pernah mendoakan mereka, punya orangtua namun tidak bisa membuat dirinya masuk kedalam surga.

Kawan, jika belum bisa membahagiakan mereka, minimal jangan buat mereka bersedih! Jika belum bisa memberi mereka uang minimal jangan menjadi beban! Jika belum bisa membuat mereka tersenyum, minimal jangan buat mereka menangis!

Kawan, sesuatu yang berharga kadang baru terasa saat ia telah tiada. Jangan sampai kesadaran itu datang saat mereka telah pergi meninggalkanmu.

Kawan, sering kali penulis saksikan banyak orang bertobat setelah kematian orang yang ia cintai (ayah, ibu, suami, istri, ataupun anak), namun sayang mereka kembali lupa setelah berlalu masa yang panjang. Mungkin mereka menanti kematian orang yang ia cintai lainnya untuk bisa kembali bertobat. Namun, jangan sampai kitalah yang menjadi sebab orang lain bertobat karena mereka kehilangan orang yang ia cintai.

Semoga permisalan yang sederhana ini dapat membuka pirikiran kita, karena orang yang cerdas adalah mereka yang mengerti meskipun hanya dengan sekedar isyarat. Tulisan ini penulis sembahkan untuk teman-teman penulis semasa kecil, berubahlah kawan, aku selalu menunggu kalian dimasjid.. ^^

”Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Alhadid 16)
***


Kisah ini terjadi di Gorontalo, ditulis di Sukabumi, dan diposkan di Batam

Kapan ya bisa ke Kalimantan dan Papua?


Untuk Seseorang


Aku mengenalnya sejak kecil. Diapun mengenalku sejak kecil.

Dia adalah orang tercantik yang pernah aku kenal setelah Ibu, Mama, dan Bunda. Meski umurku dan umurnya cukup jauh berbeda, namun hal itu tak menghalangiku untuk dekat dengannya.

Aku yakin dia sangat mencintaiku sebagaimana aku mencintainya, merindukanku seperti aku merindukannya, dan mengharapkan yang terbaik bagiku sebagaimana aku mengharapkan yang terbaik untuknya. Meski cinta, rindu, dan sayang itu belum pernah terungkap lewat kata, cukuplah matanya yang mengabarkan semua itu. Kawan, mata itu takan pernah berbohong, sebab mata adalah jendela hati. Boleh saja mulut berkata benci, namun jika di hati ada cinta maka mata akan tetap memancarkan rasa cinta meski mulut berkata benci.