Berbagilah walau satu rupiah! Bersedekah meski hanya seuntai senyum! Bersedekah, berbagi, dan bahagia ^^

Apa Kabar Fadhil?


"Pesan saya untuk para ibu, anak Ibu memang akan hidup kekurangan materi jika Ibu tidak bekerja. Tapi saat Ibu memaksa bekerja di saat yang salah, anak-anak itu akan kehilangan cinta, dan itu lebih bahaya"

Semalam saya menelpon ke rumah. Tak disangka yang menjawab anak kecil. Suaranya tak asing. Siapa lagi kalau bukan keponakan saya, Fadhil.

“Asalamu alaikum” sapa saya.
“Wa alaikumusalam” jawabnya.
“Fadhil, umi mana?” saya bertanya kaget.
“Umi lagi sholat, aba lagi dirumahnya oma, nenek dirumahnya tante” jawabnya menjelaskan.
“Fadhil sedang apa?” saya bertanya lagi.
“Tadi Fadhil lagi main basket, kemudian Fadhil dengar suara HP, karena umi lagi sholat maka Fadhil yang angkat” jawabnya dengan logat cadelnya.

Kamipun berbincang-bincang sambil menunggu uminya (kakak saya) selesai mengerjakan shalat.

***

Perbincangan yang singkat itu menyisakan rindu dalam hati. Rindu dengan kepolosan, kepintaran, kecerdikan, kenakalan, kemanjaan, dan semua hal yang melekat pada diri keponakan saya itu.

Jika pulang kampung, dia selalu bersama saya. Kami menghabiskan waktu bermain bersama, bertengkar bersama, dan menghibur Mama bersama. Entah berapa kali saya membuat ia menangis, tapi tak pernah bosan-bosannya ia bermain dengan saya. Bahkan jika saya tak di rumah dia akan selalu mencari-cari saya.

Meskipun dia masih kecil namun banyak hal yang dapat saya pelajari dari dirinya. Untuk tulisan kali ini, saya ingin berbagi kisah indah penuh hikmah bersamanya. Semoga kisah ini bisa menghibur hati orang-orang yang gundah, menentramkan yang cemas, dan mengukir kebahagian pada hati yang sedih.

Fadhil adalah anak kakak saya yang paling cantik, sebab dialah satu-satunya saudara kandung perempuan yang saya miliki. Saya harap dia tersenyum manis membaca tulisan ini, sebab sering saya dengar dari Fadhil dan abanya kalau dia menangis membaca tulisan-tulisan saya yang lalu-lalu.

Alhamdulillah, saat ini kami semakin dekat meskipun jarak ribuan kilo menjadi pemisah. Meskipun saya adiknya, tak segan-segan ia bertanya atau meminta saran dari saya. Pernah ada tawaran mengajar untuknya di suatu sekolah. Sekolah yang lumayan bagus. Dengan bimbang dia meminta saran dari saya.

Dengan jujur saya menyuruhnya untuk tidak bekerja di luar rumah. Sebab, menurut saya itu adalah lebih baik baginya. Alhamdulillah dia mengikuti saran itu. Padahal setahu saya dia sangat ingin menjadi guru. Terimakasih Ka’ telah mempercayai saya.

Memang mendidik anak orang lain itu tidak salah, tapi jangan sampai karena sibuk mendidik anak orang lain, anak kandung kita menjadi anak pembantu. Coba tengok perkataan indah dari seorang Ibu Ainun;
“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin bagi saya untuk bekerja pada waktu itu. Namun, saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu. (Ainun Habibie, Tahun-tahun Pertama)” 
Hebat bukan?

Pesan saya untuk para ibu, anak Ibu memang akan hidup kekurangan materi jika Ibu tidak bekerja. Tapi saat Ibu memaksa bekerja di saat yang salah, anak-anak itu akan kehilangan cinta, dan itu lebih bahaya.


***

Kembali ke Fadhil, atas izin Allah berkat pilihan ibunya untuk tidak bekerja diluar rumah, alhamdulillah pada usia tiga tahun Fadhil sudah bisa membaca. Sekarang dia sudah TK, sudah bisa baca alquran, kalau tidak salah bacaannya sudah di juz tiga, serta hafal surat-surat pendek dan doa-doa harian. Sebagai paman, saya sangat senang dengan semua itu. Semoga ia bisa istiqomah dan menjadi anak yang shaleh.

Satu hal lagi, saat menelpon semalam, saya mendengar kabar yang sangat menakjubkan tentang keponakan kami yang satu ini. Diusianya yang sangat belia itu ia telah diajarkan berbagi oleh bapak dan ibunya. Tahukah kau kawan, untuk membiayai wisuda(TK)nya, ia memberikan seluruh tabungan yang ia miliki untuk abinya. Kalau tak salah tabungannya sudah mencapai Rp. 450.000,00. Padahal setahu saya uang itu akan ia tambahkan untuk membeli sepeda impiannya.

Yang ingan saya bagi, saat Fadhil baru saja bisa membaca, ada satu pengalaman unik dengannya. Seperti yang kita rasakan bersama, saat pertama kali bisa membaca, semua tulisan yang kita lihat pasti ingin dibaca. Begitupun dengan Fadhil.

Setelah membeli makanan ringan yang bernama Tango, diapun mulai membaca tulisan yang tertera pada pembungkusnya. Ta-Ngo, begitulah dia membacanya.

“Bukan tango Fadhil, tapi tenggo” begitu sela saya padanya. Dengan ekspresi serius dia kembali melihat pembungkus makanan ringan itu dan berkata: “Ta-ngo bukan tenggo”

Saya kembali membetulkan dengan menjelaskan bahwa tidak semua tulisan dibaca sesuai tulisannya. Dan bla,bala,bla.. sampai saya kehabisan kata.

Tapi karena dia belum paham dengan semua itu, maka dia tetap bersikeras bahwa itu tango bukan Tenggo. saya pun menyerah dibuatnya.

Apa yang dapat dipelajari dari kisah ini?

Kawan, dalam banyak hal kadang kita berperilaku seperti Fadhil. Merasa benar padahal sebenarnya salah. Merasa banyak ilmu padalah hanya seujung kuku.

Parahnya lagi, meskipun dengan kondisi demikian banyak diantara kita tak mau belajar lagi. Jika kita kecil seperti Fadhil maka itu wajar, dia kan masih anak kecil. Tapi jika yang berperilaku seperti itu adalah orang besar maka musibah itu namanya.

Saya pun kadang seperti itu, dan mungkin Anda juga demikian. Kita terjebak oleh ego masing-masing dan merasa paling benar. Bukan saja pada sesama teman, orang tua ataupun guru, bukan juga ustad, bahkan pada Sang Pencipta terkadang juga demikian.

Sungguh inilah musibah yang paling parah. Orang yang merasa lebih tahu dari Allah adalah mereka yang senantiasa mempertanyakan takdir. Kenapa begini, kenapa begitu. Kanapa yang ini dan kenapa bukan yang itu. Hingga iman yang mahal itu menjadi rapuh dan tipis. Kemudian goyah dan tinggal menunggu waktu untuk hancur.

Jika iman telah tiada, lalu di mana jiwa bisa menemukan ketenangan dan kebahagiaan?

Kawan kita boleh berencana tapi yakinlah rencana Allahlah yang terbaik.

Kita kadang bertanya kenapa, namun percayalah bahwa apa yang Allah takdirkan itulah yang terindah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu , padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui" (QS Al-Baqarah ayat 216)
Dalam hidup ini banyak hal terjadi tanpa kita ingin dan rencanakan. Selama kita berusaha berjalan dalam rambu-rambu-Nya maka tetaplah ikhlas dalam mengarungi jalan itu. Kemudian bersyukur dan tersenyumlah dan jadilah manusia yang paling bahagia.

Ingat, jangan so’ tahu dihadapan Dzat yang Maha Tahu. Dialah sebaik-baik Pembuat rencana dan Dialah Sebaik-baik Pemberi balasan.

Wallahu A’lam. Semoga bermanfaat.



Share This Article


13 comments:

  1. Semoga Allah tancapkan rasa cinta kepada ilmu dalam relung hati kita......

    ReplyDelete
  2. Masya Allah..
    Aisyah kalau sudah dewasa gak mau kerja di luar deh, lagipula perempuan memang baiknya nggak sering-sering keluar rumah kan, ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya..
      menurut saya Bagusnya seperti itu..

      Bayangkan saja, kalau suami lagi capek pulang kerja, trus istri juga pulang kerja dan capek.. wah jadi gimana suasana rumah..

      Delete
  3. tinggalkan apa apa yg membuat kita lalai mendidik anak,, lalai memperhatikan suami,,lalai mengurus rumah dan apa apa yg merugikan dri kita,
    CAYOOOoooooooooooooooooooooooo
    tetap semangat......semangat smangaaaaaat...
    ALLAAAAAHU AKBAR.....


    #ummu yasmin#

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah, Tulisan ini berguna dan memotivasi saya yang belum banyak tahu untuk terus belajar, agar diberitahu dan mengetahui mana yg benar dan mana yg salah... Syukron

    ReplyDelete
  5. mumtaz ibunya salam kenal buat uminya Fadhil akh.
    saya kemrin juga baru saja mendengar MP3 ttg madrasah dalam kandungan. bagaimna ibu sudah menyekolahkan anaknya ketika dalam kandungan dan senantiasa memperdengarkan ayat2 suci. Intinya materi yang diberikan adalah yang baik dan merangsang daya ingat yang kuat sejak usia dalam kandungan tepatnya saat 4 bulan ditiupkan ruh. Bahkan ada katanya 10 bulan sudah bisa menyebutkan umi dengan fasih.

    saya beri linknya akh. buat teman2 juga.
    websitenya http://www.radiokrph.com/

    http://www.mediafire.com/download/4ycchid9uvbv5dv/PARENTING%2C+MELURUSKAN+PERSEPSI+DALAM+MENDIDIK+ANAK+%28USTZH.+NUNUNG+BINTARI%29+KRPH+SELASA%2C+1+OKTOBER+2013.mp3

    ReplyDelete
  6. Kalau bgtu buka praktek dirumah sja ya nantinya wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dokter ya?

      Istri teman teman saya ada yang kayak gitu :)

      Delete