Berbagilah walau satu rupiah! Bersedekah meski hanya seuntai senyum! Bersedekah, berbagi, dan bahagia ^^
Showing posts with label Petualangan. Show all posts
Showing posts with label Petualangan. Show all posts

Senyum Itu Paspor

Beberapa hari lalu seorang dosen membagikan satu pepatah terkenal di negaranya, Sudan. Kata beliau, 
“Senyum itu paspor. Senyum tulus dari hati bisa membawa pemiliknya kemana saja ^^”

Thailand mengingatkan saya akan pepatah ini. Saat bahasa tak lagi sama, maka senyum menjadi penghangat yang dimengerti oleh semua orang. Cukup mengembangkan bibir dan tersenyum tulus, maka orang di sekitar akan menjadi teman dan penolong dalam setiap kesulitan.

Sukabumi, dua tahun di sana mengajarkan saya akan masyarakat yang suka tersenyum dan lembut khas Sunda. Senyum sesederhana apapun bentuknya, ketika lahir dari hati akan menawarkan keakraban yang menghangatkan.

Keajaiban Berbagi


Kebahagiaan saat menerima pemberian disaat butuh adalah kebahagiaan yang besar dan indah. Tapi, memberi disaat butuh, jauh lebih besar dan indah. Berbagilah, walaupun hanya satu rupiah. Bersedekahlah, meskipun hanya dengan senyuman. Bersedekah, Berbagi, dan Bahagia, :) *sM28#

Keajaiban Pertama

Mau hidup penuh semangat dan motivasi?

Hadiah Dari Thailand

Dalam kertas impian, Thailand bukanlah salah satu Negara yang ingin kami kunjungi. Namun dengan segala hikmah dibaliknya, kami ditakdirkan menginjakan kaki di sana.

Ada tiga hadiah yang berhasil kami dapatkan ketika berada disana, yaitu senyum, salam, dan suara.

Senyum
Ketika di Thailand kami semakin sadar bahwa senyum adalah bahasa universal semua manusia. Ketika kau tersenyum itu tandanya kau bahagia, senang, dan seakan-akan berkata, “Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” 

Salam
Jika senyum adalah bahasa universal semua manusia maka salam adalah bahasa universal umat islam. Salam yang kami maksud adalah ucapan, “asalamu ‘alaikum warahmatullah”. Saat mendengar hal itu, betapa bahagianya hati didoakan oleh orang yang tak dikenal dan pertama kali dijumpai. Sungguh ini adalah persaudaran lintas Negara yang kokoh dan menyejukkan.

Suara
Kami tiba di Thailand pada hari jumat menjelang shalat jum’at. Karena mesjid yang sangat dekat serta perjalanan yang tak begitu melelahkan, akhirnya kami putuskan untuk shalat jum’at. Sebab seorang musafir tak wajib shalat jum’at dan boleh menjama’ serta qoshor shalatnya.

Ketika khatib menyampaikan khutbah, tak ada satupun yang kami pahami kecuali muqaddimah khutbah serta ayat dan hadist yang disampaikan dalam bahasa Arab. Karena khatib menyampaikan khutbah sesuai bahasa kaumnya, yaitu bahasa Thailand.

Kemudian, setelah shalat ashar, terjadi peristiwa yang membuat kami mengambil banyak hikmah didalamnya. Dengan penuh keramahan beberapa orang jama’ah menyapa dan mengajak kami berbicara. Tentunya mereka bebicara dengan bahasa ibunya sehingga kami tak faham dengan apa yang mereka katakan.

Dengan bahasa inggris yang terbata-bata kami katakan bahwa kami adalah orang Indonesia dan tak faham dengan bahasa mereka. Sepertinya mereka faham dengan apa yang kami katakan dan setelah itu kami berbicara dengan bahasa orang bisu, yaitu bahasa isyarat.

Peristiwa yang singkat itu mengingatkan kepada seorang yang berada jauh di kampung halaman. Kepada seorang tuna wicara dan rungu (bisu dan tuli) yang beberapa kali menyempatkan diri mengunjungi rumah kami.

Pernah suatu ketika, saat sedang duduk santai bersama keluarga diteras rumah, dia datang dan ikut duduk bersama kami. Diapun mulai bercerita dengan gaya bahasanya sendiri. Tangannya tak pernah diam mengisyaratkan setiap makna yang ingin disampaikan. Menunjuk ke dada, langit, pintu, dan banyak lagi agar kami faham dengan apa yang disampaikan.

Namun, sebaik bagaimanapun orang bisu itu menjelaskan, kami yakin ada begitu banyak makna yang tak bisa dia sampaikan secara utuh. Mungkin dia bisa, tapi tidak semua penyimak bisa memahami apa yang dia sampaikan.

Sebagai contoh, suatu kali orang itu menunjuk kamar mandi dan mengisyaratkan gaya orang sedang mandi. Kami yang ada disekitarnya berbeda pendapat dalam menafsirkan isyarat tersebut. Ada yang bilang dia ingin mandi, ada pula yang bilang bahwa dia mengabarkan bahwa dikamar mandi itu ada orang yang sedang mandi. Apapun tafsiran yang benar dari gaya itu, intinya kami tak bisa memahami secara utuh apa yang ia sampaikan.

Saat bercakap-cakap dengan beberapa orang Thailand tadi, kami merasakan apa yang dirasakan oleh orang bisu itu. Meskipun hanya sesaat tapi itu telah memberikan pelajaran yang sangat berharga. Kami sadar bahwa nikmat berbicara, berkata-kata, dan bisa menyampaikan apa yang diinginkan adalah nikmat yang begitu besar. Apalagi jika orang-orang faham dan mengerti dengan apa yang kita katakan dan inginkan.

Tidak sakitkah hatimu saat kau berbicara dan orang-orang tak mengerti dengan apa yang kau katakan? Atau saat kau punya cerita yang sangat indah untuk dibagi tapi tak tahu bagaimana cara menceritakannya? Atau kau punya berita penting yang harus diketahui oleh masyarakat sekitar namun mereka tak faham dengan apa yang kau sampaikan?

Tentunya setiap hati akan merasakan sakit dan kesedihan yang mendalam. Setiap hati akan merasa sunyi meskipun ditempat yang ramai dan merasa senyap walaupun ditempat yang bising. Untuk itu hendaklah setiap hati senantiasa bersyukur karena bisa bersuara, berbicara, dan berkomunikasi. Pergunakan kenikmatan ini untuk kebaikan dan kebenaran. Seperti sabda nabi: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam” (HR Bukhari Muslim)

Kawan, tidak semua orang didunia ini bisa berbicara seperti dirimu. Kami yakin disekitarmu juga ada orang yang mengalami nasib yang sama seperti orang kami ceritakan tadi. Mereka yang ditakdirkan tak bisa berbicara, mendengar, bahkan ada juga yang tak bisa melihat. Tentunya pada penciptaan itu ada hikmah bagi mereka yang merenung dan berpikir.

Kawan, jika berbicara tentang orang bisu dan buta kami teringat dengan video yang penuh inspirasi dibawah ini. Semoga video ini bisa memberikan kita semangat dan motivasi untuk selalu berjuang dan memperjuangkan hidup kita. Selamat menikmati.



Satu hal lagi, saat berada di Thailand kami teringat dengan ma’had kami tercinta. Sebab disana kami kembali menggunakan bahasa Arab secara penuh dalam percakapan sehari-hari. Ustad yang membawa kami tak pandai bahasa melayu, kami juga belum lancar dengan bahasa melayu, sehingga bahasa Arablah yang kami pilih untuk berkomunikasi sehari-hari.

Perjalanan ke Thailand sungguh sangat mengesankan. Semoga dalam tulisan-tulisan selanjutnya kami bisa bercerita lebih banyak lagi.

Semoga bermanfaat

Padang Besar, Thailand 10 Desember 2012

Alquran Berdebu

Sebenarnya ini lanjutan dari catatan "Hilang Arah", namun karena takut kepanjangan maka saya tulis dalam catatan baru.

Dalam setiap petualangan, mesjid adalah salah satu tempat yang selalu saya tanyakan. Entah untuk shalat, buang air, istirahat sejenak melepas lelah, bahkan sebagai penanda tempat bertemu.

Pernah dalam dalam satu petualangan saya singgah di masjid yang cukup megah. Masjidnya besar, bersih, dan terawat. Mungkin ada pekerja khusus yang dibayar untuk itu.

Waktu itu saya shalat di shaf pertama. Di depan saya ada rak Alquran berjejer rapi. Di atasnya mushaf-mushaf berbaris indah. Hanya, ada selembar sobekan mushaf yang mengganggu mata. Selepas shalat saya ambil lembaran itu dan memasukan ke mushaf yang lebih besar.

Dalam sepersekian detik saya diam tertegun ketika membuka mushaf yang besar itu. Karena tak sengaja tangan meninggalkan tanda empat jari “menghapus” debu-debu yang cukup tebal di atas mushaf. Alquran itu diselimuti debu

Hilang Arah

Hal yang paling ditakutkan seorang perantau, penjelajah, pendaki, ataupun pengembara adalah kehilangan arah. Apalah arti bekal yang banyak jika tak bisa kembali? Apalah arti fisik yang kuat jika puncak tak dapat dicapai? Apalah arti kedudukan yang tingggi jika terlunta di negeri orang?

Masih ingat tulisan “Tersesat Bahagia”? Itu salah satu petualangan tersesat yang selalu saya syukuri. Meskipun berakhir bahagia (#tsaaaa), tapi pada awalnya ada takut yang menyelimuti hati. Dalam kesendirian, di negeri orang, dan materi tak bisa dibilang banyak, tentulah membuat siapa yang mengalami akan merasa takut dan ngeri. Segala puji bagi Allah yang selalu menjawab doa hamba-hambaNya yang sedang terdesak.

Baru-baru ini saya tersesat lagi. Meskipun tidak terlalu mencekam tapi alhamdulillah ada cerita yang bisa dibagi.

Nasehat Dari Kuala Lumpur

Kuala Lumpur, Rihlah dalam menjelajahi kota ini memang belum selesai, tapi pelajaran berharga dari setiap perjalanan selalu meninggalkan kesan yang mendalam dalam hati.

Beberapa hari yag lalu, kami bertemu dengan dua orang istimewah. Dua orang yang berbeda namun telah mengajarkan kami banyak hal yang bermanfaat.

Yang pertama adalah seorang kakek, orang besar, terkenal, banyak harta, asli Indonesia dan sehat. Sedangkan orang kedua adalah seorang pemuda, orang kecil, tak terkenal, asli Malaysia dan LUMPUH.


Baiklah, kita mulai dari orang pertama.

Beliau adalah Dr Abdullah Yasin. Seorang alumni dari Universitas Islam Madinah dan Imam Mohammad Ibnu Sa'ud - Riyadh - Arab Saudi. Pernah bekerja di Unit Dakwah Islamic Counselor Kedutaan Arab Saudi Kuala Lumpur selama puluhan tahun. Beliau asli Indonesia namun telah menjadi warga Negara Malaysia.

Usia beliau memang sudah cukup tua (67 tahun lebih), tapi semangat beliau masih jelas terkobar. Terlebih dalam bidang dakwah, sungguh kami dapat merasakan semangat dakwahnya meskipun dalam pertemuan yang sekejap itu.

Satu pesan berharga yang beliau titipkan kepada kami para pemuda, yaitu untuk selalu menjaga waktu. Ya, Islam sangat menekankan umatnya untuk menghargai waktu. Jika orang barat berkata: “don't put off till tomorrow what you can do today?” maka islam berkata:

" إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح ، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء"

Dari dua ungkapan diatas, dapat kita simpulkan bahwa islam sangat menghargai waktu. Orang barat masih menunggu jeda sehari untuk tidak menunda sedangkan islam memberikan waktu setengah hari saja, yaitu antara pagi dan petang.

Itulah nasehat yang paling beliau tekankan dalam pertemuan yang singkat tersebut.


Selanjutnya kita salami orang kedua.

Jujur, sampai detik penulisan artikel ini, kami tidak tahu nama orang itu. Malam itu sempat kami tanya namun skarang lupa lagi. Tapi, apalah arti sebuah nama? (alasan orang yang tak mau atau susah hafal nama, hehe).

Meskipun kami lupa namanya, tapi kawan, pelajaran yang ia berikan tidak kalah berharga dari orang pertama. Dia memang orang kecil, tak terkenal, dan bahkan lumpuh, namun dari dirinya kembali kami sadari bahwa setiap kita ada dalam kenikmatan yang berlimpah. "فَبِأَيِّ آلاَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Kami bertemu dengannya saat berkunjung ke Universitas Malaya. Dia duduk di kursi roda. Kondisinya memang tak separah Abdullah Bani’mah (orang yang kami ceritakan dalam tulisan “Hadiah Untuk Kawan”) tapi mereka berdua memiliki cerita yang hampir sama.

Seperti yang diceritakan oleh seorang kawan, bahwa dulu dia adalah seorang pemuda normal seperti kami. Namun sebuah peristiwa membuat ia menjadi seperti sekarang ini.

Kawan, lihatlah betapa mudahnya bagi Allah untuk mencabut semua nikmat yang ada pada diri kita, jika ia mau maka Dia Hanya Berkata: "Jadi, maka jadilah". Untuk itu masihkah kita tak takut dan tak kembali padaNya? Ataukah kita menuggu teguran yang lebih keras untuk mau bertobat dan berubah? Semoga kita manjadi hamba-hambaNya yang senantiasa bersyukur dan bertobat.

Kembali ke pemuda tadi, meskipun dengan segala keterbatasan yang dia miliki, tak menghalangi semangat dan tekatnya untuk pergi shalat di Masjid. Dan hati inipun tambah takjub saat tahu ternyata antara masjid dan asramanya ada jarak cukup jauh yang memisahkan keduanya.

Pemandangan ini sangat jauh berbeda dengan semangat anak-anak muda yang seumuran dengannya saat ini. Anak-anak muda yang memiliki tubuh yang sehat, akal yang cerdas, dan kaki yang kuat. Bahkan diantara anak muda itu ada yang tahu bahwa hukum shalat berjama’ah di mesjid bagi kaum lelaki adalah wajib. Namun sayang sekali mereka tidak sanggup melangkahkan kaki ke masjid seperti pemuda tadi.

Bukankah seorang sahabat pernah meminta keringanan pada nabi untuk shalat dirumah? Sebab dia buta dan tak ada orang yang bisa menuntunnya kemasjid. Namun apa jawaban Rasul, apakah kau mendengarkan adzan? Dia menjawab: Na’am (iya) ya Rasulallah. Maka nabi berkata: maka penuhilah panggilan itu.

Jadi bagi mereka yang dikaruniakan mata yang bisa melihat, kaki yang bisa berjalan dan berlari, tubuh yang sehat dan bugar, perintah untuk shalat berjamaah di masjid pastilah lebih wajib bagi mereka.

Kawan, kaki adalah nikmat yang sangat berharaga, tak percayalah? Lihatlah Messi yang menjadi terkenal berkat kakinya, Ronaldo yang menjadi jutawan dengan kakinya, dan atlet-atlet lainnya yang mendapatkan berbagai hadiah dan penghargaan berkat kakinya.

Kaki yang kita miliki mungkin tak sehebat Messi dan sekuat Ronaldo, tapi adakah yang rela memotong kakinya dengan imbalan emas sebesar gunung? Mungkin ada, tapi hanya mereka yang gila dan terdesak.

Kawan, tak semua orang bisa berjalan dan berlari sepertimu. Tak semua orang bisa melompat dan menendang sepertimu. Untuk itu syukurilah nikmat ini dengan menggunakan kedua kaki itu untuk mendekatkan diri padaNya.

Mesjid itu tak jauh, hanya malas yang mungkin terlalu besar. Mesjid itu tak jauh, hanya semangat yang mungkin melemah. Mesjid itu cukup dekat, sedekat stadion sepak bola bagi mereka yang suka menonton bola, sedekat bioskop bagi mereka yang suka nonton flim, sedekat Bali bagi mereka yang suka berwisata, sedekat Mall bagi mereka yang suka berbelanja, dan sedekat warnet (cc) bagi mereka yang suka online.

Kawan, jadilah pemuda yang hatinya selalu terpaut di masjid. Wa rojulun qolbuhu mu’alqun fil masajid, dan seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid. Itulah salah satu golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah di hari yang tak ada naungan kecuali dariNya. Semoga kita menjadi bagian dari mereka di akhirat kelak. aamiin.

Spesial untuk kawan-kawanku tercinta, semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita agar senantiasa istiqomah mendirikan shalat berjama’ah di masjid. Semoga bermanfaat. (kawanmu, Senyum Syukur) 

Repost : Segambut, 17 Des 2012.


Menggapai Mimpi

Hidup penuh mimpi sangatlah mengasyikkan. Saat satu mimpi tertaklukan, impian lain memanggil untuk ditaklukan. Memanggil dan menantang si pemimpi agar senantiasa berlari, berprestasi, berkarya, dan terus memberi, agar hidup yang singkat ini punya dan lebih berarti.

Setiap manusia pasti punya mimpi, tapi tak semua manusia bisa meraih mimpinya. Mimpi bukanlah hayalan. Karena mimpi adalah obsesi masadepan yang mendorong pemiliknya tuk terus berjuang dan bergerak dalam meniti jalan kepadanya. Sedangkan hayalan hanyalah angan-angan kosong tanpa karya nyata.

Hari Ini

“Jika ditakdirkan untuk menulis sebuah buku maka kata pertama yang akan kutulis adalah I B U" (Ibu dan Cinta Pertama)
Hari ini saya bahagia sekali. Karena sebuah impian telah selesai terpenuhi. Tulisan tentang ibu -seperti janji- telah selesai. Sebuah asa membumbung, semoga pihak penerbit merestui.

Kau yang Cantik

Entah bagaimana memulai tulisan ini. Sekedar berbagi, ketika menjelajahi berbagai pulau dan negeri, menurut hati tetap dirimu yang paling cantik..


Abaikan kalimat di atas. Itu sekedar pembuka yang kurang penting. Atau ada yang sedang senyum-senyum sendiri. Ge er kali.. :p

Ini sebuah fakta. Tentang pengalaman diri saat bertualang. Ketika menyambangi beberapa kota dan negeri, ada satu fenomena yang dapat diamati, bahwa kecantikan itu tak abadi. Selalu, di kota manapun, saat usia tak muda lagi, keriput akan menghiasi. Jika itu terjadi, apalagi yang dibanggakan untuk menarik hati?

Coba tengok artis di era sembilan puluhan, kemana kecantikan mereka sekarang? Adakah pria yang masih tertarik dengan mereka?

Ketika pertama kali mengunjungi Jawa Barat, mata terpesona dengan banyak gadis yang aduhai. Ketika mampir di Makassar, selalu ada yang manarik untuk dilirik. Juga saat di Malaysia terlebih di Thailand, kecantikan tak tak usah di tanya lagi. Kalau di Batam dan Jakarta, pakaian seksi menghiasi. Begitupun dengan jawa bagian timur, beda-beda tipis.

Untuk itu Allah menyuruh hambaNya menundukan pandangan. Karena kecantikan atau ketampanan adalah ujian yang sangat mengganggu hati. Terlebih untuk mereka yang sudah baliq, mata adalah anggota yang sangat sulit untuk dijaga. Semakin diumbar semakin membuat galau, semakin tidak dijaga masalah terus bertambah. Lalu bagaimana dengan mereka yang membiarkan kecantikannya di tonton dan di pandang?


Kampung Tua

Saat menjelalah negeri jiran, ada satu kampung telah mengambil satu bagian di hati saya. Selain karena kebaikan dan keramahan penduduknya, kampung itu mempunyai satu fenomena yang sangat menarik hati.

Ini tentang cinta yang bertahan lama. Tentang kesetiaan pasangan cinta. Tentang cinta yang dirayakan sampai usia berlarut senja. Ketika keriput memenuhi wajah, kakek dan nenek di sana, entah mengendarai mobil, sepeda motor, bahkan sepeda, bersama-sama memenuhi masjid. Sungguh menakjubkan.

Itulah cinta yang disandarkan pada Pemilik Cinta, Allah Ta’ala. Jika alasan cinta bersifat abadi, karena Allah, maka selama alasan itu ada maka cinta itu akan selalu berbunga dan bersemi. Cukup saling menjaga ketaatan pada Allah, cinta akan selalu ada. Sama-sama yakin diawasi Allah, maka kesetiaan tak perlu ditanya.

Bahagianya, cinta yang ditemukan disebuah masjid akan bersemi di masjid juga. Hati-hati yang selalu terpaut dengan masjid. Harapan.


#tolakMissWorld

Kecantikan adalah anugrah yang mesti dijaga. Bukan untuk diumbar dan dipamer. Bagaimanapun, sampai kapanpun, kontes kecantikan, entah itu berlevel dunia, negara, provinsi, kabupaten, kecamatan, kelurahan, desa, bahkan dusun sekalipun, adalah bentuk eksploitasi wanita dan penentangan terhadap hukum Allah. Mari kita tolak bersama-sama!



Kau yang Cantik

Cantik itu relatif. Baik dari pandangan mata maupun pengertian. Bisa saja mata si A wanita itu cantik tapi belum tentu mata si B berkata demikian. Masing-masing punya pandangan, setiap orang punya selera.

Jika pengertian cantik itu seksi maka orang tercantik adalah yang paling seksi. Namun jika cantik itu adalah taat maka yang paling cantik adalah yang paling bertakwa.

Kau yang cantik adalah kau yang taat, berhijab syar'i, dan pandai menjaga diri. Kau yang cantik adalah kau yang bertakwa, berjilbab panjang, menjuntai menutupi dada dan lekuk tubuh.

Jika kau seperti itu, maka kau telah menyamai orang yang saya sebut paling atas.

Lagi-lagi ini kalimat ngawur. Jangan terlalu dipikir-pikir, Jika masih tetap tersenyum, segera periksakan diri, he he.. justkidding.

Semoga bermanfaat.

Pandangan Dan Kecantikan 


Sebuah Asa

Jika gagal menyapa, katakan pada diri: "benar aku telah gagal, tapi apakah aku harus menyerah?!"

Mahameru..

itu gunung tertinggi di pulau Jawa..

kawan, 17 Agustus tepat, aku melihatnya meskipun dari kejahuan..

Tinggi sekali kawan.. setinggi semangat para pendaki..

yang tak pernah menyerah, meskipun raga terkapar lelah

yang tak pernah berhenti, hingga impian bisa tercapai

sederhana, layaknya rumus #5cM


5 cM
Apapun impian kamu, letakkan ia #5cM di depan kening kamu
jangan sampai menempel, biarkan ia tetap mengambang #5cM
kemudian yang kau butuhkan setelah itu adalah..

Hanya kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya..
tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya..
mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya..
leher yang lebih sering melihat ke atas..
lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja..
dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya..
serta mulut yang akan selalu berdoa..
Jika begitu maka kamu akan selalu dikenang sebagai seorang yang punya mimpi, keyakinan dan cita-cita bukan sekedar daging yang punya nama. sebagai orang yang percaya pada kekuatan mimpi dan mengejarnya. bukan yang biasa-biasa saja tanpa tujuan, ikut arus, dan kalah oleh keadaan. tapi seorang yg percaya akan keajaiban mimpi, cita-cita, dan keajaiban keyakinan..
Dan kamu nggak perlu bukti apakah mimpi-mimpi itu akan terwujud nantinya.. karena kamu hanya harus mempercayainya..
percaya pada #5cM di depan kening kamu!


Semangat 2 M 2 T!

Kawan, jangan pernah menyerah menggapai mimpi..

karena pemenang takan pernah menyerah sebab yang menyerah takan pernah menang..

memang jika terus berjuang tak ada jaminan kau akan menang, tapi..

tapi.. jika menyerah kau pasti kalah

Camkan, jika menyerah sekarang mungkin saja kau akan menyesal selamanya!

kawan, saat kegagalan datang menyapa diri, yakinkan dalam hati..

yakinkan dalam hati: "benar aku telah gagal, tapi apakah aku harus menyerah?!"

salam semangat dari kami | #2T2M Bisa diraih, insyaAllah :D
Kumpulan Twit 17 Agustus 2013
Malang, malam hari.



Janji Ditepati

Masih ingat postingan tanggal 14 Mei 2013?

Ya, itu tentang janji pertemuan dengan seorang kawan. Alhamdulillah tulisan ini dibuat di rumahnya dengan leptopnya pula.

Memang bahagia itu selalu sederhana ^^



Malang yang dingin

Butiran Hikmah di Kota Bandung

"Sungguh celaka, sungguh celaka, sunggguh celaka, mereka yang berjumpa dengan Ramadhan namun tak mendapat ampunan"

Mari Bertualang

“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (Q.S. Al-Mulk: 15)

 Nasehat Seorang Imam
Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Bertualanglah, maka engkau akan mendapatkan pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan.
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air yang diam menjadi rusak kerana diam tergenang
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak kan keruh menggenang

Singa tak akan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika sahaja matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman
Orang-orang tidak akan menunggu saat munculnya datang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
Jika dibawa ke bandar berubah mahal jadi perhatian hartawan.

(Diwan Imam Asy-Syafi’i, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i)

Indahnya Bertualang

Bertualang itu indah | menghilangkan bosan, pengusir gundah
Bertualang itu asyik | dapat melihat banyak hal yang menarik
Bertualang itu seru | membuat adrenalin bertambah laju
Bertualang itu menambah pengalaman | karena setiap tempat selalu ada kesan
Bertualang itu manambah kenangan | sebab dalam petualangan selalu tumbuh ikatan
Bertualang itu memperbesar lingkaran | setiap tempat selalu ada yang mau berteman
Bertualang itu bukan buang-buang uang | sebab dengannya lahir banyak peluang

Dan..
Bertualang itu aku | jadi maukah kau ikut denganku?
Bertulang mengelilingi indonesia | bahkan dunia | bersama :D

Jika ya, ulurkan tanganmu, genggam tanganku, kita akan segera berangkat, bersama :D

Pekan Baru 5 Juli 2013

__________
catatan untuk awal sebuah petualangan yang panjang, insyaAllah.
gambar dari sini

Tersesat Bahagia

Sebuah petualangan kecil di Negeri Jiran

"Semua yang terjadi di bumi ini selalu indah, seburuk apapun itu. Hanya, tugas kitalah untuk diam merenung memikirkan keindahan-keindahan dalam episode yang buruk itu"

Ini cerita ketika saya di Malaysia. Cerita yang kembali menyadarkan saya bahwa rencana Allah selalu lebih baik dari apa yang kita rencanakan.

Jika hendak ke Malaysia saya ketinggalan pesawat maka saat di Malaysia saya pernah tersesat tak tentu arah. Namun yang jelas dalam dua kisah itu banyak hikmah yang dapat disemai.

Semuanya bermula saat saya harus kembali dari Kuala Lumpur ke Negeri Perlis, sendirian. Sebenarnya ada kawan yang akan menemani, tapi kerena satu dan lain hal saya terpaksa pulang sendiri. Jarak Kuala Lumpur dan Perlis sekitar delapan jam mengendarai bus. Sebelumnya saya pernah melakukan perjalanan yang sama. Namun saat itu bersama kawan yang menjemput di bandara.

Berbekal pengalaman pertama tadi saya memberanikan diri untuk pergi seorang diri. Sebab menurut pengamatan saya semenjak tiba hingga saat itu, dibanding Indonesia Malaysia sedikit lebih aman dan tertib.

Kawan yang dulunya menemani kini hanya mengantar hingga terminal. Dari situlah petualangan saya dimulai.

Saya duduk di bangku bagian tengah. Di sebelah saya seorang laki-laki yang berumur tiga puluhan lebih. Tujuan kami sama, Perlis. Dia orang Malaysia, namun kayaknya tak begitu mengenal negeri Perlis. Dalam situasi seperti itu seharusnya saya yang lebih banyak bertanya padanya. Namun kenyataannya dialah yang lebih banyak bertanya pada saya tentang Perlis. Karena saya baru sekali mengunjungi kota itu maka jawaban terbanyak saya adalah tidak tahu.

Bus terus melaju meninggalkan Kuala Lumpur, disela-sela kantuk saya memandang jauh ke luar jendela menikmati suasana malam kota itu. Seiring berjalannya menit sayapun tertidur dengan sukses.

Kira-kira pukul 02.00 dini hari, bus berhenti di sebuah tempat persinggahan. Di sana berjejer bus-bus besar yang telah lama tiba. Sopir dan awak bus membangunkan semua penumpang. Saat itu saya turun untuk buang air dan mencuci muka. Karena takut ketinggalan saya segera kembali ke bus.

Setengah jam lamanya bus itu singgah di sana. Setelah semua penumpang kembali naik, bus itu melaju melanjutkan perjalanan. Dan lagi-lagi, seiring bus yang kian melaju, sayapun tertidur dengan pulas.

Saya terbangun lagi saat bus singgah di terminal Kedah. Saya ingat beberapa waktu lalu saya pernah main ke sini. Jam telah menunjukan pukul 06.00 pagi waktu shalat shubuh untuk wilayah Malaysia. Saya ingat dekat situ ada mushalla. Tanpa berpikir panjang saya berinisiatif shalat di sana.

Setelah shalat saya bergegas kembali ke bus. Namun ada satu keanehan yang menyelimuti hati saya. Laki-laki yang duduk di samping saya hilang entah kemana. Saya berpikir mungkin ia pindah kedepan. Sebab banyak penumpang yang melakukan hal seperti itu jika penumpang di bangku depan turun karena telah sampai.

Bus kembali melaju dengan kencang. Namun hati saya mulai tak tenang, sebab setelah diperhatikan dengan baik, ternyata diantara penumpang tersisa tak ada satupun yang mirip dengan perawakan bapak tersebut. Namun disisi lain saya sangat yakin, bahwa Perlis masih satu jam lagi dari kota ini. Keyakinan itu semakin kuat seiring dengan pemandangan jalan yang sedikit saya hafal.

Saat itu saya belum membeli simcard Malaysia. Jadi tak bisa menghubungi siapa-siapa. Namun di saku saya ada nomor-nomor penting yang siap dihubungi jika terjadi apa-apa. Di saat itulah saya mulai membuka deretan nomor-nomor itu. Semua deretan nomor itu milik teman-teman saya di Malaysia, kecuali satu nomor, milik teman saya dari Indonesia yang kuliah di Malaysia. Kami pernah dua tahun sekelas ketika masih di MAN dulu.

Bus terus melaju, sekuat tenaga saya berusaha untuk tenang. Namun rasanya sulit sekali untuk tenang jika hati benar-benar yakin telah tersesat. Pasalnya, pemandangan sekitar jalan telah benar-benar asing buat saya.

Namun, ditengah kegalauan hati, tiba-tiba bus yang saya tumpangi melewati sebuah kampus besar. Rasanya saya kenal kampus itu. Setelah diingat-ingat, hati yakin itulah kampus tempat teman saya kuliah. Iya, siapa lagi kalau bukan teman yang dari Indonesia tadi.

Harapan pun kembali tumbuh. Rencana kembali disusun. Saya ingin bertemu dengan teman tadi untuk pertama kali di Malaysia. Saat itu sudah sebulan lebih saya di sana. Namun belum sempat berjumpa dengannya. Saya pikir ini adalah kesempatan terbaik untuk berjumpa dengannya. Tapi bagaimana?

Bus terus melaju, sedang saya belum bisa mengambil keputusan dengan cepat, bahkan hingga kampus yang megah itu berangsur-angsur hilang dari pandangan mata. Dengan segera kepanikan kembali melanda. Namun saya berusaha untuk bersikap tenang. Dalam situasi itu saya putuskan untuk menunggu terminal pemberhentian selanjutnya.

Akhirnya bus itu berhenti di sebuah terminal kecil. Terminal itu sangat jauh berbeda dengan terminal-terminal yang saya lewati sebelumnya. Jika di Kuala Lumpur terminal tempat pemberangkatan bus ini hampir mirip dengan bandara, maka terminal terakhir ini tak jauh beda dengan terminal di kampung saya. Hanya, meskipun kalah besar, terminal ini lebih terlihat bersih dan terawat. Semua penumpang telah turun, sayapun terpaksa turun.

Setelah yakin ini adalah terminal terakhir, saya bergegas mencari telepon umum. Di Malaysia telepon umum masih banyak digunakan. Jujur, itulah pertama kali menggunakan telepon umum dalam hidup saya. Sehingga beberapa koin “hilang” karena kesalahan yang saya buat.

Setelah mengerti cara penggunaannya, maka nomor pertama yang saya hubungi adalah teman dari Indonesia tadi. Secara singkat saya jelaskan apa yang baru saja menimpa diri dan keinginan untuk berjumpa dengannya. Tentu saja dia sangat setuju.

Kemudian dia mulai menjelaskan bagaimana cara untuk menuju kampusnya. Bis apa yang harus di naiki, tarifnya berapa, dan hal-hal lainnya yang mungkin bisa membantu saya untuk sampai ke kampusnya. Kami berjanji bertemu di mall kampus.

Setelah itu saya menghubungi teman yang ada di Perlis dan menjelaskan apa yang baru saja menimpa saya. Saya beritahukan padanya bahwa saya akan ke kampus teman terlebih dahulu dan memintanya untuk menjemput saya sore nanti. Alhamdulillah sampai disitu hampir semua masalah terselesaikan.

Setelah beberapa kali salah memberhentikan bus dan sekali diturunkan dari bus akhirnya saya bisa sampai di kampus teman. Setelah memasuki komplek kampus mata saya tak henti-hentinya mencari bangunan yang bertuliskan mall. Alhamdulillah meskipun agak terlewat sedikit, saya menemukannya.

Di mall saya langsung mencari telepon umum. Sayangnya telepon umum di sini tak menggunakan koin tapi kartu. Sehingga saya tak bisa menggunakannya.

Setelah capek berkeling-keliling mencari teman, saya beranikan diri meminjam HP dari seorang pedagang disitu. Saya berjanji untuk mengganti pulsanya.

Akhirnya kakak itu mau, saya menyodorkan nomor HP teman saya. Namun sayang seribu sayang, nomornya tidak aktif.

Saya hampir putus asa. Sebab bukan sekali saja saya mencoba menelpon. Bahkan saya sudah sangat malu karena sudah tak terhitung lagi meminta kakak tadi untuk menghubungi teman. Dan jawabannya selalu sama, tidak aktif.

Sayapun bingung harus bagaimana lagi. Sempat terbetik untuk kembali ke Perlis saja. Namun di tengah kebingungan itu saya melihat siluwet mirip teman saya. Hatipun begitu gembira karena dia benar-benar teman saya. 

Ternyata saat itu dia ada ujian dan HPnya dimatikan. Sebenarnya dia sudah lama menunggu namun di bagian depan mall. Sedang saya mencarinya di bagian belakang mall. Karena lama menunggu dia sempat berpikir bahwa saya tak jadi datang dan memutuskan untuk pulang ke asrama. Namun sebelum pulang ia sempatkan untuk mengambil uang di ATM. Dekat ATM itulah kami bertemu, ^^

Saat itu saya senang sekali. Betapa bahagianya hati dengan pertemuan itu. Memang saya belum lama berpisah dengannya. Bahkan ketika libur lebaran lalu kami sempat bertemu dan bercakap. Saat itu saya banyak bertanya padanya tentang kuliah di Malaysia. Kalau tak salah ingat, saya juga sempat mengabarkan keinginan untuk belajar di sana. Namun pertemuan kali ini terasa berbeda karena terjadi di negeri orang dan juga secara “kebetulan”.

Begitulah, setiap mengingat ketersesatan ini, saya selalu tersenyum bahagia. Sehingga tanpa ragu memberikan judul tulisan ini: "Tersesat Bahagia".

Kawan, semua yang terjadi di bumi ini selalu indah, seburuk apapun itu. Hanya, tugas kita adalah diam merenung memikirkan keindahan-keindahan dalam episode yang buruk itu. Jika hati benar-benar merenung ada sejuta hikmah dalam setiap peristiwa, seburuk apapun itu. Lalu, bagaimana jika itu adalah peristiwa indah? Tersenyumlah kawan!

Selamat merenung.

Penjelajah Malam II

"Malam ibarat pakaian. Pakaian yang menutupi kebaikan orang-orang yang ikhlas, juga pakaian yang menyelimuti kejahatan orang-orang yang lalai"

Tiga Jumat Luar Biasa

Tiga Jumat, Tiga Khutbah, Tiga Bahasa 

Pekan Pertama (Jumat 30 Nov 2012)
Pekan pertama, kami berada di Malaysia dan tentunya dengan bahasa Melayu.

Satu hal yang menarik dari khutbah di Malaysia adalah di tulis dengan Arab Melayu dan hampir atau semua mesjid dengan judul dan khutbah yang sama.

Berburu Hikmah

Yakinlah, Semua Pasti Ada Hikmahnya. Apapun itu, jika kita mau merenung maka semua pasti ada hikmahnya. Bahkan untuk sesuatu yang sangat menyakitkan sekalipun. Bahkan untuk sesuatu yang tak bisa kau temukan hikmahnya sekalipun. Yakinlah semua pasti ada hikmahnya.

Hanya terkadang akal yang pendek, ilmu yang sedikit, dan kurangnya pengalaman, membuat hikmah menjadi tersembunyi dan hilang.

Ketinggalan Pesawat

Belum lama ini kami sempat mengalami keperistiwa yang begitu menakjubkan.

Ya, peristiwa yang membuat kami semakin sadar bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Asal kita mau merenung dan rela dengan takdirNya.. maka akan ada beribu hikmah yang dapat dipetik dari berbagai peristiwa yang telah terjadi. Ya, bahkan untuk peristiwa yang menyakitkan hati.

Sebab Allah itu selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Karena boleh jadi kita menginginkan sesuatu padahal itu buruk untuk kita dan sebaliknya. 

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu , padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui". (QS Al-Baqarah ayat 216)

Itulah yang terjadi pada kami baru-baru ini. Saat berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta kami ketinggalan pesawat. Saat itu rasa takut, kesal, dongkol, dan berbagai macam perasaan lainnya satu persatu menghampiri kami. Sebab ini adalah pengalaman pertama kami dan tak ada kawan yang menemani.

Alhamdulillah, setelah berbincang dengan pihak penerbangan, mereka mau membantu untuk mengganti tiket kami dengan penerbangan selanjutnya pada pukul 5 petang. Sebab kesalahan bukan dari kami melainkan dari pihak penerbangan.

Jadilah kami menunggu di Bandara selama sepuluh jam lebih. Saat itulah hati mulai dihinggapi kekesalan dan kedongkolan. Berusaha mencari hikmah namun tak kunjung dapat. Bahkan karena tak kunjung ketemu, sampai-sampai hati berpikir, mungkin pesawat pertama akan mengalami kecelakaan, cuaca buruk, atau hal-hal buruk lainnya dan pesawat selanjutnya akan tiba dengan selamat. Itulah pikiran putus asa dari seorang yang berusaha mencari hikmah di setiap kejadian.. (hehe).

Akhirnya semua itu terjawab saat tiba di Bandara Internasional negara tujuan. Teman yang akan menjemput tiba di sana sesaat setelah ketibaan kami. Sungguh, jika saja kami tiba dengan pesawat pertama, maka kami akan menunggu disana selama lebih dari 10 jam. Menunggu dengan penuh cemas, takut, dan tentunya semua itu akan lebih menyakitkan sebab disana tak ada teman, tak ada telpon, tak ada yang bisa dimintakan bantuan. Berbeda dengan di Bandara Soekarno-Hatta tadi. Meskipun ada rasa takut dan cemas, namun itu masih dinegara kami, masih ada yang bisa diajak bicara, masih bisa jalan-jalan, bahkan sempat bercakap-cakap dengan seorang turis yang kelebihan barang bawaan.

Sungguh sangat menakjubkan, sangat berkesan, dan terlebih satu impian kami untuk ke luar negeri telah tercapai. Tetaplah bermimpi dan berjuanglah untuk menggapai mimpimu!

Uang bukanlah masalah asal kau punya semangat,
Umur bukanlah masalah asal kau mau berjuang,
Pintar bukanlah yang utama, karena banyak orang pintar yang tak bisa menggapai mimpinya,
Saat kau mau berusaha, disitulah ada jalan.
Saat kau mau berjuang, maka bersiaplah untuk menang.
Man Jadda Wajada siapa yang berjuang dialah yang akan mendapatkan.

Kawan, itulah sedikit cerita dan motivasi yang dapat kami bagi untuk tulisan kali ini. Semoga, cerita yang sangat singkat ini, bisa memberikan motivasi bagi kita, untuk selalu yakin dengan apa yang Allah rencanakan selalu lebih indah dan baik. Sebab Dia Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Untuk itu teruslah berjuang (dengan usaha dan doa) untuk menggapai kesuksesan Anda, dan semoga kita bisa berjumpa dipuncak kesuksesan. Aamiin.



Bertualanglah!

Bertualang Menuntut Ilmu

مَنْ سَلَكَ طَرِيْـقًـا يَبْـتَغِي فِيْهِ عِلْمًا سَهَّـلَ اللهُ لَهُ طَرِيْـقًـا إِلَى الْجَنَّـةِ، وَإِنَّ الْمَـلاَئِـكَةَ لَتَضَعُ أَجْـنِحَـتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَـسْـتَغْـفِـرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَـا وَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الْحِـيْتَـانُ فِي الْمَـاءِ .



Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air. (HR Abu Dawud)


Indahnya Bertualang..
Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Salam Perpisahan

Untuk member sM dimanapun kalian berada.

Dalam setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Jadi, tetaplah tersenyum dan ikhlaskan apa yang telah dan akan terjadi! :D *sMpekanterakhir#

Perpisahan, adalah tema yang sedih untuk dibicarakan. Namun, terkadang indahnya pertemuan takan terasa tanpa adanya perpisahan.

Perpisahan adalah sebuah keharusan dalam hidup ini. Entah itu perpisahan yang sementara ataupun yang abadi. Sebab setiap manusia pasti Mati, dan dunia ini pasti binasa.