Berbagilah walau satu rupiah! Bersedekah meski hanya seuntai senyum! Bersedekah, berbagi, dan bahagia ^^
Showing posts with label Malaysia. Show all posts
Showing posts with label Malaysia. Show all posts

Keajaiban Berbagi


Kebahagiaan saat menerima pemberian disaat butuh adalah kebahagiaan yang besar dan indah. Tapi, memberi disaat butuh, jauh lebih besar dan indah. Berbagilah, walaupun hanya satu rupiah. Bersedekahlah, meskipun hanya dengan senyuman. Bersedekah, Berbagi, dan Bahagia, :) *sM28#

Keajaiban Pertama

Mau hidup penuh semangat dan motivasi?

Kau yang Cantik

Entah bagaimana memulai tulisan ini. Sekedar berbagi, ketika menjelajahi berbagai pulau dan negeri, menurut hati tetap dirimu yang paling cantik..


Abaikan kalimat di atas. Itu sekedar pembuka yang kurang penting. Atau ada yang sedang senyum-senyum sendiri. Ge er kali.. :p

Ini sebuah fakta. Tentang pengalaman diri saat bertualang. Ketika menyambangi beberapa kota dan negeri, ada satu fenomena yang dapat diamati, bahwa kecantikan itu tak abadi. Selalu, di kota manapun, saat usia tak muda lagi, keriput akan menghiasi. Jika itu terjadi, apalagi yang dibanggakan untuk menarik hati?

Coba tengok artis di era sembilan puluhan, kemana kecantikan mereka sekarang? Adakah pria yang masih tertarik dengan mereka?

Ketika pertama kali mengunjungi Jawa Barat, mata terpesona dengan banyak gadis yang aduhai. Ketika mampir di Makassar, selalu ada yang manarik untuk dilirik. Juga saat di Malaysia terlebih di Thailand, kecantikan tak tak usah di tanya lagi. Kalau di Batam dan Jakarta, pakaian seksi menghiasi. Begitupun dengan jawa bagian timur, beda-beda tipis.

Untuk itu Allah menyuruh hambaNya menundukan pandangan. Karena kecantikan atau ketampanan adalah ujian yang sangat mengganggu hati. Terlebih untuk mereka yang sudah baliq, mata adalah anggota yang sangat sulit untuk dijaga. Semakin diumbar semakin membuat galau, semakin tidak dijaga masalah terus bertambah. Lalu bagaimana dengan mereka yang membiarkan kecantikannya di tonton dan di pandang?


Kampung Tua

Saat menjelalah negeri jiran, ada satu kampung telah mengambil satu bagian di hati saya. Selain karena kebaikan dan keramahan penduduknya, kampung itu mempunyai satu fenomena yang sangat menarik hati.

Ini tentang cinta yang bertahan lama. Tentang kesetiaan pasangan cinta. Tentang cinta yang dirayakan sampai usia berlarut senja. Ketika keriput memenuhi wajah, kakek dan nenek di sana, entah mengendarai mobil, sepeda motor, bahkan sepeda, bersama-sama memenuhi masjid. Sungguh menakjubkan.

Itulah cinta yang disandarkan pada Pemilik Cinta, Allah Ta’ala. Jika alasan cinta bersifat abadi, karena Allah, maka selama alasan itu ada maka cinta itu akan selalu berbunga dan bersemi. Cukup saling menjaga ketaatan pada Allah, cinta akan selalu ada. Sama-sama yakin diawasi Allah, maka kesetiaan tak perlu ditanya.

Bahagianya, cinta yang ditemukan disebuah masjid akan bersemi di masjid juga. Hati-hati yang selalu terpaut dengan masjid. Harapan.


#tolakMissWorld

Kecantikan adalah anugrah yang mesti dijaga. Bukan untuk diumbar dan dipamer. Bagaimanapun, sampai kapanpun, kontes kecantikan, entah itu berlevel dunia, negara, provinsi, kabupaten, kecamatan, kelurahan, desa, bahkan dusun sekalipun, adalah bentuk eksploitasi wanita dan penentangan terhadap hukum Allah. Mari kita tolak bersama-sama!



Kau yang Cantik

Cantik itu relatif. Baik dari pandangan mata maupun pengertian. Bisa saja mata si A wanita itu cantik tapi belum tentu mata si B berkata demikian. Masing-masing punya pandangan, setiap orang punya selera.

Jika pengertian cantik itu seksi maka orang tercantik adalah yang paling seksi. Namun jika cantik itu adalah taat maka yang paling cantik adalah yang paling bertakwa.

Kau yang cantik adalah kau yang taat, berhijab syar'i, dan pandai menjaga diri. Kau yang cantik adalah kau yang bertakwa, berjilbab panjang, menjuntai menutupi dada dan lekuk tubuh.

Jika kau seperti itu, maka kau telah menyamai orang yang saya sebut paling atas.

Lagi-lagi ini kalimat ngawur. Jangan terlalu dipikir-pikir, Jika masih tetap tersenyum, segera periksakan diri, he he.. justkidding.

Semoga bermanfaat.

Pandangan Dan Kecantikan 


Tersesat Bahagia

Sebuah petualangan kecil di Negeri Jiran

"Semua yang terjadi di bumi ini selalu indah, seburuk apapun itu. Hanya, tugas kitalah untuk diam merenung memikirkan keindahan-keindahan dalam episode yang buruk itu"

Ini cerita ketika saya di Malaysia. Cerita yang kembali menyadarkan saya bahwa rencana Allah selalu lebih baik dari apa yang kita rencanakan.

Jika hendak ke Malaysia saya ketinggalan pesawat maka saat di Malaysia saya pernah tersesat tak tentu arah. Namun yang jelas dalam dua kisah itu banyak hikmah yang dapat disemai.

Semuanya bermula saat saya harus kembali dari Kuala Lumpur ke Negeri Perlis, sendirian. Sebenarnya ada kawan yang akan menemani, tapi kerena satu dan lain hal saya terpaksa pulang sendiri. Jarak Kuala Lumpur dan Perlis sekitar delapan jam mengendarai bus. Sebelumnya saya pernah melakukan perjalanan yang sama. Namun saat itu bersama kawan yang menjemput di bandara.

Berbekal pengalaman pertama tadi saya memberanikan diri untuk pergi seorang diri. Sebab menurut pengamatan saya semenjak tiba hingga saat itu, dibanding Indonesia Malaysia sedikit lebih aman dan tertib.

Kawan yang dulunya menemani kini hanya mengantar hingga terminal. Dari situlah petualangan saya dimulai.

Saya duduk di bangku bagian tengah. Di sebelah saya seorang laki-laki yang berumur tiga puluhan lebih. Tujuan kami sama, Perlis. Dia orang Malaysia, namun kayaknya tak begitu mengenal negeri Perlis. Dalam situasi seperti itu seharusnya saya yang lebih banyak bertanya padanya. Namun kenyataannya dialah yang lebih banyak bertanya pada saya tentang Perlis. Karena saya baru sekali mengunjungi kota itu maka jawaban terbanyak saya adalah tidak tahu.

Bus terus melaju meninggalkan Kuala Lumpur, disela-sela kantuk saya memandang jauh ke luar jendela menikmati suasana malam kota itu. Seiring berjalannya menit sayapun tertidur dengan sukses.

Kira-kira pukul 02.00 dini hari, bus berhenti di sebuah tempat persinggahan. Di sana berjejer bus-bus besar yang telah lama tiba. Sopir dan awak bus membangunkan semua penumpang. Saat itu saya turun untuk buang air dan mencuci muka. Karena takut ketinggalan saya segera kembali ke bus.

Setengah jam lamanya bus itu singgah di sana. Setelah semua penumpang kembali naik, bus itu melaju melanjutkan perjalanan. Dan lagi-lagi, seiring bus yang kian melaju, sayapun tertidur dengan pulas.

Saya terbangun lagi saat bus singgah di terminal Kedah. Saya ingat beberapa waktu lalu saya pernah main ke sini. Jam telah menunjukan pukul 06.00 pagi waktu shalat shubuh untuk wilayah Malaysia. Saya ingat dekat situ ada mushalla. Tanpa berpikir panjang saya berinisiatif shalat di sana.

Setelah shalat saya bergegas kembali ke bus. Namun ada satu keanehan yang menyelimuti hati saya. Laki-laki yang duduk di samping saya hilang entah kemana. Saya berpikir mungkin ia pindah kedepan. Sebab banyak penumpang yang melakukan hal seperti itu jika penumpang di bangku depan turun karena telah sampai.

Bus kembali melaju dengan kencang. Namun hati saya mulai tak tenang, sebab setelah diperhatikan dengan baik, ternyata diantara penumpang tersisa tak ada satupun yang mirip dengan perawakan bapak tersebut. Namun disisi lain saya sangat yakin, bahwa Perlis masih satu jam lagi dari kota ini. Keyakinan itu semakin kuat seiring dengan pemandangan jalan yang sedikit saya hafal.

Saat itu saya belum membeli simcard Malaysia. Jadi tak bisa menghubungi siapa-siapa. Namun di saku saya ada nomor-nomor penting yang siap dihubungi jika terjadi apa-apa. Di saat itulah saya mulai membuka deretan nomor-nomor itu. Semua deretan nomor itu milik teman-teman saya di Malaysia, kecuali satu nomor, milik teman saya dari Indonesia yang kuliah di Malaysia. Kami pernah dua tahun sekelas ketika masih di MAN dulu.

Bus terus melaju, sekuat tenaga saya berusaha untuk tenang. Namun rasanya sulit sekali untuk tenang jika hati benar-benar yakin telah tersesat. Pasalnya, pemandangan sekitar jalan telah benar-benar asing buat saya.

Namun, ditengah kegalauan hati, tiba-tiba bus yang saya tumpangi melewati sebuah kampus besar. Rasanya saya kenal kampus itu. Setelah diingat-ingat, hati yakin itulah kampus tempat teman saya kuliah. Iya, siapa lagi kalau bukan teman yang dari Indonesia tadi.

Harapan pun kembali tumbuh. Rencana kembali disusun. Saya ingin bertemu dengan teman tadi untuk pertama kali di Malaysia. Saat itu sudah sebulan lebih saya di sana. Namun belum sempat berjumpa dengannya. Saya pikir ini adalah kesempatan terbaik untuk berjumpa dengannya. Tapi bagaimana?

Bus terus melaju, sedang saya belum bisa mengambil keputusan dengan cepat, bahkan hingga kampus yang megah itu berangsur-angsur hilang dari pandangan mata. Dengan segera kepanikan kembali melanda. Namun saya berusaha untuk bersikap tenang. Dalam situasi itu saya putuskan untuk menunggu terminal pemberhentian selanjutnya.

Akhirnya bus itu berhenti di sebuah terminal kecil. Terminal itu sangat jauh berbeda dengan terminal-terminal yang saya lewati sebelumnya. Jika di Kuala Lumpur terminal tempat pemberangkatan bus ini hampir mirip dengan bandara, maka terminal terakhir ini tak jauh beda dengan terminal di kampung saya. Hanya, meskipun kalah besar, terminal ini lebih terlihat bersih dan terawat. Semua penumpang telah turun, sayapun terpaksa turun.

Setelah yakin ini adalah terminal terakhir, saya bergegas mencari telepon umum. Di Malaysia telepon umum masih banyak digunakan. Jujur, itulah pertama kali menggunakan telepon umum dalam hidup saya. Sehingga beberapa koin “hilang” karena kesalahan yang saya buat.

Setelah mengerti cara penggunaannya, maka nomor pertama yang saya hubungi adalah teman dari Indonesia tadi. Secara singkat saya jelaskan apa yang baru saja menimpa diri dan keinginan untuk berjumpa dengannya. Tentu saja dia sangat setuju.

Kemudian dia mulai menjelaskan bagaimana cara untuk menuju kampusnya. Bis apa yang harus di naiki, tarifnya berapa, dan hal-hal lainnya yang mungkin bisa membantu saya untuk sampai ke kampusnya. Kami berjanji bertemu di mall kampus.

Setelah itu saya menghubungi teman yang ada di Perlis dan menjelaskan apa yang baru saja menimpa saya. Saya beritahukan padanya bahwa saya akan ke kampus teman terlebih dahulu dan memintanya untuk menjemput saya sore nanti. Alhamdulillah sampai disitu hampir semua masalah terselesaikan.

Setelah beberapa kali salah memberhentikan bus dan sekali diturunkan dari bus akhirnya saya bisa sampai di kampus teman. Setelah memasuki komplek kampus mata saya tak henti-hentinya mencari bangunan yang bertuliskan mall. Alhamdulillah meskipun agak terlewat sedikit, saya menemukannya.

Di mall saya langsung mencari telepon umum. Sayangnya telepon umum di sini tak menggunakan koin tapi kartu. Sehingga saya tak bisa menggunakannya.

Setelah capek berkeling-keliling mencari teman, saya beranikan diri meminjam HP dari seorang pedagang disitu. Saya berjanji untuk mengganti pulsanya.

Akhirnya kakak itu mau, saya menyodorkan nomor HP teman saya. Namun sayang seribu sayang, nomornya tidak aktif.

Saya hampir putus asa. Sebab bukan sekali saja saya mencoba menelpon. Bahkan saya sudah sangat malu karena sudah tak terhitung lagi meminta kakak tadi untuk menghubungi teman. Dan jawabannya selalu sama, tidak aktif.

Sayapun bingung harus bagaimana lagi. Sempat terbetik untuk kembali ke Perlis saja. Namun di tengah kebingungan itu saya melihat siluwet mirip teman saya. Hatipun begitu gembira karena dia benar-benar teman saya. 

Ternyata saat itu dia ada ujian dan HPnya dimatikan. Sebenarnya dia sudah lama menunggu namun di bagian depan mall. Sedang saya mencarinya di bagian belakang mall. Karena lama menunggu dia sempat berpikir bahwa saya tak jadi datang dan memutuskan untuk pulang ke asrama. Namun sebelum pulang ia sempatkan untuk mengambil uang di ATM. Dekat ATM itulah kami bertemu, ^^

Saat itu saya senang sekali. Betapa bahagianya hati dengan pertemuan itu. Memang saya belum lama berpisah dengannya. Bahkan ketika libur lebaran lalu kami sempat bertemu dan bercakap. Saat itu saya banyak bertanya padanya tentang kuliah di Malaysia. Kalau tak salah ingat, saya juga sempat mengabarkan keinginan untuk belajar di sana. Namun pertemuan kali ini terasa berbeda karena terjadi di negeri orang dan juga secara “kebetulan”.

Begitulah, setiap mengingat ketersesatan ini, saya selalu tersenyum bahagia. Sehingga tanpa ragu memberikan judul tulisan ini: "Tersesat Bahagia".

Kawan, semua yang terjadi di bumi ini selalu indah, seburuk apapun itu. Hanya, tugas kita adalah diam merenung memikirkan keindahan-keindahan dalam episode yang buruk itu. Jika hati benar-benar merenung ada sejuta hikmah dalam setiap peristiwa, seburuk apapun itu. Lalu, bagaimana jika itu adalah peristiwa indah? Tersenyumlah kawan!

Selamat merenung.

Tiga Jumat Luar Biasa

Tiga Jumat, Tiga Khutbah, Tiga Bahasa 

Pekan Pertama (Jumat 30 Nov 2012)
Pekan pertama, kami berada di Malaysia dan tentunya dengan bahasa Melayu.

Satu hal yang menarik dari khutbah di Malaysia adalah di tulis dengan Arab Melayu dan hampir atau semua mesjid dengan judul dan khutbah yang sama.

Berburu Hikmah

Yakinlah, Semua Pasti Ada Hikmahnya. Apapun itu, jika kita mau merenung maka semua pasti ada hikmahnya. Bahkan untuk sesuatu yang sangat menyakitkan sekalipun. Bahkan untuk sesuatu yang tak bisa kau temukan hikmahnya sekalipun. Yakinlah semua pasti ada hikmahnya.

Hanya terkadang akal yang pendek, ilmu yang sedikit, dan kurangnya pengalaman, membuat hikmah menjadi tersembunyi dan hilang.

Ketinggalan Pesawat

Belum lama ini kami sempat mengalami keperistiwa yang begitu menakjubkan.

Ya, peristiwa yang membuat kami semakin sadar bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Asal kita mau merenung dan rela dengan takdirNya.. maka akan ada beribu hikmah yang dapat dipetik dari berbagai peristiwa yang telah terjadi. Ya, bahkan untuk peristiwa yang menyakitkan hati.

Sebab Allah itu selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Karena boleh jadi kita menginginkan sesuatu padahal itu buruk untuk kita dan sebaliknya. 

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu , padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui". (QS Al-Baqarah ayat 216)

Itulah yang terjadi pada kami baru-baru ini. Saat berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta kami ketinggalan pesawat. Saat itu rasa takut, kesal, dongkol, dan berbagai macam perasaan lainnya satu persatu menghampiri kami. Sebab ini adalah pengalaman pertama kami dan tak ada kawan yang menemani.

Alhamdulillah, setelah berbincang dengan pihak penerbangan, mereka mau membantu untuk mengganti tiket kami dengan penerbangan selanjutnya pada pukul 5 petang. Sebab kesalahan bukan dari kami melainkan dari pihak penerbangan.

Jadilah kami menunggu di Bandara selama sepuluh jam lebih. Saat itulah hati mulai dihinggapi kekesalan dan kedongkolan. Berusaha mencari hikmah namun tak kunjung dapat. Bahkan karena tak kunjung ketemu, sampai-sampai hati berpikir, mungkin pesawat pertama akan mengalami kecelakaan, cuaca buruk, atau hal-hal buruk lainnya dan pesawat selanjutnya akan tiba dengan selamat. Itulah pikiran putus asa dari seorang yang berusaha mencari hikmah di setiap kejadian.. (hehe).

Akhirnya semua itu terjawab saat tiba di Bandara Internasional negara tujuan. Teman yang akan menjemput tiba di sana sesaat setelah ketibaan kami. Sungguh, jika saja kami tiba dengan pesawat pertama, maka kami akan menunggu disana selama lebih dari 10 jam. Menunggu dengan penuh cemas, takut, dan tentunya semua itu akan lebih menyakitkan sebab disana tak ada teman, tak ada telpon, tak ada yang bisa dimintakan bantuan. Berbeda dengan di Bandara Soekarno-Hatta tadi. Meskipun ada rasa takut dan cemas, namun itu masih dinegara kami, masih ada yang bisa diajak bicara, masih bisa jalan-jalan, bahkan sempat bercakap-cakap dengan seorang turis yang kelebihan barang bawaan.

Sungguh sangat menakjubkan, sangat berkesan, dan terlebih satu impian kami untuk ke luar negeri telah tercapai. Tetaplah bermimpi dan berjuanglah untuk menggapai mimpimu!

Uang bukanlah masalah asal kau punya semangat,
Umur bukanlah masalah asal kau mau berjuang,
Pintar bukanlah yang utama, karena banyak orang pintar yang tak bisa menggapai mimpinya,
Saat kau mau berusaha, disitulah ada jalan.
Saat kau mau berjuang, maka bersiaplah untuk menang.
Man Jadda Wajada siapa yang berjuang dialah yang akan mendapatkan.

Kawan, itulah sedikit cerita dan motivasi yang dapat kami bagi untuk tulisan kali ini. Semoga, cerita yang sangat singkat ini, bisa memberikan motivasi bagi kita, untuk selalu yakin dengan apa yang Allah rencanakan selalu lebih indah dan baik. Sebab Dia Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Untuk itu teruslah berjuang (dengan usaha dan doa) untuk menggapai kesuksesan Anda, dan semoga kita bisa berjumpa dipuncak kesuksesan. Aamiin.