Berbagilah walau satu rupiah! Bersedekah meski hanya seuntai senyum! Bersedekah, berbagi, dan bahagia ^^

Ujian Dalam Cinta

Cinta itu perlu diuji, agar tahu dia asli atau palsu. Sebab banyak yang kehilangan cinta setelah ujian datang betubi-tubi. Banyak yang kehilangan rasa, padahal hanya diuji dengan hal biasa.

Cinta itu perlu ditempa, untuk tahu apakah tulus atau pura-pura. Karena banyak yang kelihatan tulus di depan tapi “punya sesuatu” di belakang. Ada yang bermanis-manis saat berjumpa, kemudian mencaci setelah pulang.


Siapa yang Kau Cinta?

Semakin spesial orang atau sesuatu yang dicinta, maka semakin besar pula ujian yang hadir untuk membuktikannya. Pasangan yang cantik tentu banyak diminati, pasangan yang beruang tentu menjadi rebutan. Jika ditakdirkan berpasangan dengan mereka, bersiaplah untuk terus diuji.

Nah, bagaimana jika hati mengaku cinta pada Dzat yang Penuh Kesempurnaan, Alah Ta’ala? Tentu bersiaplah dengan ujian pembuktian cinta. Karena cinta bukan sekedar kata, perlu bukti dan aksi nyata.

1400 tahun yang lalu Allah telah mengingatkan dalam sebuah firman-Nya. Dua ayat dari surat Al-‘Ankabut. Tepatnya yang kedua dan ketiga.
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
Tentu, tak ada yang mengimani sesuatu tanpa mencintainya. Di mana ada iman, di situ ada cinta.


Belajar dari Ibrahim

Tak terasa Idul ‘Adha sebentar lagi. Umat Islam akan berbahagia dengan daging yang melimpah. Berbicara tentang ‘Idul ‘Adha, tentunya tak lepas dari kisah menakjubkan keluarga nabi Ibrahim. Keluarga yang penuh cinta dan berhasil melewati ujian cintanya.

Salah satu kisah yang akan terus dikenang adalah perintah penyembelihan anak nabi Ibrahim, Ismail. Anak yang telah dinantikan bertahun-tahun malah diperintahkan untuk disembelih. Adakah bapak yang tega melakukan itu?

Namun cinta Allah telah tumbuh dalam hati keluarga itu. Meskipun dalam hati ada tanya dan berat, sang ibu, anak, dan ayah kompak untuk taat. Semoga kau dapati aku termasuk orang-orang yang sabar, begitulah jawab nabi Ismail meneguhkan langkah bapaknya.

Hingga tibalah waktu penyembelihan, ketika pisau hampir menyentuh leher, Allah gantikan nabi Ismail dengan hewan sembelihan. Sungguh Allah selalu menjadi penolong hamba-Nya yang bertakwa.


Korbankan Cintamu

Akhir-akhir ini saya sering membaca sms yang mengusik hati. Umat Islam di Indonesia lebih mampu membeli Smartphone dari pada hewan kurban. Padahal harganya sama atau lebih murah dibanding HP pintar. Ataukah HP sekarang lebih pintar dari pemakainya?

SMS ini kembali menyadarkan hati, bahwa berbagi itu bukan tentang banyaknya uang. Tapi bagaimana hati menyikapi uang yang Allah titipkan.

Semoga Idul ‘Adha tahun ini memberikan makna baru untuk hidup. Kawan, tahun akan terus berganti, umur akan terus bertambah. Namun kedewasaan belum tentu meningkat. Banyak-banyaklah merenung. Sungguh Allah menjajikan hidayah untuk mereka yang selalu merenung dan berpikir.


2 Oktober 2014
8 Dzul Hijjah 1435

bicara tentang hp pintar
saat ini hp saya masih bodoh, hehe..


Share This Article


2 comments:

  1. hapenya di suruh sekolah bro biar jadi pintar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ide yang bagus..
      Semoga sebentar lagi jadi pintar, hehe

      Delete