Rasa yang paling indah dalam hidup adalah cinta. Rasa yang lebih dalam dari lautan dan tinggi dari langit. Saat jatuh cinta, semua jadi indah seperti pelangi ^^
Rasa yang paling perih dalam hidup juga adalah cinta. Sebenarnya bukan karena cinta, tapi cara yang dipilih dalam merayakan cinta bukanlah yang halal dan legal.
Tanyakan pada mereka yang lagi patah hati, depresi dihianati, yang kadang berpikir untuk bunuh diri. Cinta yang awalnya bagai pelangi berubah seperti paku yang mencabik hati.
Hampir semua manusia sepakat bahwa rasa indah yang pernah mereka rasakan adalah cinta. Rasa yang telah melahirkan banyak kisah dan cerita. Ada kisah yang dipenuhi senyum dan kebahagiaan, Namun tak sedikit juga yang diwarnai dengan tangis dan air mata. Namun sepahit apapun kisah sebuah cinta, pasti dalam salah satu episodenya ada rasa indah yang membahagiakan.
Kawan, sen juga manusia, dan pastinya rasa cinta itu pernah hinggap di hati ini. Mencintai memang indah, tapi lebih indah lagi saat mengetahui orang yang hati cinta, juga memiliki rasa yang sama. Siapa yang tak bahagia saat tahu cinta yang ada dalam dadanya tak bertepuk sebelah tangan? Dan adakah yang tak hancur hatinya saat menyadari cintanya tak berbalas?
Pacaran memang tak selalu berakhir dengan zina, tapi hampir semua zina diawali dengan pacaran. Dan Tak Semua Perzinahan Berakhir dengan Aborsi, tapi kebanyakan aborsi disebabkan Perzinahan. Jadi Pacaran = Zina = Aborsi =Pembunuh. Singkatnya pacaran sama dengan membunuh.
Pernahkah hati berpikir ada ibu yang tega membunuh anaknya?
Hewan yang paling buaspun takan pernah tega membunuh anaknya. Namun, jika melihat kenyataan yang terjadi, maka dapat dipahami bahwa saat ini banyak gadis yang lebih kejam dari binatang buas.
Bukankah dikoran-koran, majalah-majalah, atau dimedia cetak maupun elektronik lainnya berita ini sudah menjadi hal lumrah dalam pemberitaan?
Ya, suatu kenyataan yang memiriskan hati, memilukan jiwa, mengalirkan air mata, dan menggugah iman yang bersemayan didada.
Ketika melihat kenyataan ini, terbesit suatu pertanyaan Bagaiman hal ini bisa terjadi?
Mengapa tetap Memandang, jika memang tak Cinta?
Mengapa tetap Memandang, Meski tahu itu dosa?
Mengapa tetap Memandang, bila itu bukan yang pertama?
Mengapa terus Memandang, kalau memang tak ingin pacaran?
Mengapa terus Memandang, jika hanya ingin memastikan?
Bulan ini banyak teman yang nikah dan merencanakan pernikahan. Salah satunya sahabat sen yang pernah tinggal satu kost dan dulunya curhat-curhatan tentang dia yang mencuri hati atau dia yang memilih orang lain ^^
Ada tanggal 8, 11, 13, 15 dan lainnya yang mungkin sen tidak tahu. Hampir dipastikan sen tak bisa menghadiri semua acara tersebut. Karena rata-rata diadakan di tempat mempelai wanita yang jauh dari Jakarta.
Bahagia hati mendengar kawan yang berhasil sempurnakan separuh agama dan temukan tulang rusuknya. Terlebih jika kisah pencarian cinta sejatinya penuh perjuangan dan inspirasi. Seperti yang akan sen kutip dalam catatan kali ini.
Assalamualaikum cinta sejati, assalamualaikum pasangan diri ^^
Dalam catatan kali ini hati ingin berbagi apa yang sen dapat dari film “Assalamualaikum Beijing!” yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya bunda Asma Nadia. Alhamdulillah sen sudah nonton dan beli novelnya. Bagi kawan yang belum segera beli dan nonton. Sungguh bertabur inspirasi :)
Dari “Assalamualaikum Beijing!” sen menangkap empat pesan penting.
Yang pertama: SENTUHAN
Dalam novel maupun filmnya, tokoh utama Asma, tidak mau bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Karena itu adalah salah satu prinsip seorang muslim yang sayang saat ini banyak diabaikan. Padahal dalam satu hadist Rasul Bersabda:
“Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani)
Banyak orang meremehkan ini. Padahal tidak ada zina yang tanpa diawali sentuhan kecil. Entah itu rabaan atau remasan.
Dan berbahagialah yang tak mau menyentuh dan disentuh kecuali mahram. Karena itu adalah tanda setia buat dia yang halal nanti. Menyentuh saja tak mau, apalagi berbuat lebih? Bukan begitu Kawan? :)
Kutipan paling menarik untuk bagian ini adalah:
"Cinta itu menjaga, tergesa-gesa itu nafsu belaka"
Sejak pekan lalu saya selalu berurusan dengan perasaan. Bukan perasaan sendiri, tapi follower twitter yang lagi galau dengan perasaannya. Ada yang patah hati, dihianati, atau sekedar menyimpan rasa dan mengagumi.
Ternyata urusan perasaan tak semudah yang dipikirkan. Banyak dari mereka yang tahu harus berbuat apa, namun perasaan selalu menjadi penghalang. Dia tahu harus mengakhiri hubungan, tapi meski dihianati berkali-kali hati tetap memilih bertahan.
Bahkan di antara mereka ada yang bingung dengan perasaannya. Di putusin nangis, tapi tak mau jika hubungan itu berakhir. Ada juga yang terganggu dengan telepon mantannya, tapi jika si mantan tak menelpon dia jadi kangen. Aneh bukan?
“Dua mata berzina, dan zina keduanya adalah pandangan”
Pagi itu cuaca cerah. Saya turun dari lantai dua kostan baru. Tiba diujung tangga, kaki terhenti takjub. Dari ujung lorong seorang bidadari datang sambil tersenyum. Sekilas hati bergumam takjub, subhanallah cantiknya.. ups!
Anggap kisah di atas hanyalah fiksi. Andaipun nyata, maka pandangan pertama adalah hadiah, setelahnya barulah dosa. Itupun jika mata cepat menunduk dan lisan langsung istigfar :)
“Janganlah kamu mengikutkan pandangan dengan pandangan berikutnya. Sebab hanya pandangan pertama saja yang dibolehkan bagimu, tidak untuk pandangan setelahnya.” (HR Abu Daud, At-Tirmidzi, Ahmad, dan Baihaqi)
Kemarin seorang teman curhat tentang perjalanan cintanya. Setelah mantap melamar seorang gadis, tiba-tiba dapat kabar yang sangat mengejutkan dari gadis lain yang dulu pernah ditaksir. Mendengar itu perasaannya campur aduk. Terkejut bahagia, kemudian berlanjut sesal. Mengapa kabar itu datang terlambat?
Secara hukum, secara logika, saya dan teman sepakat bahwa melanjutkan dengan yang telah dilamar adalah pilihan tepat. Masa lalu biarlah dibelakang, masa depan haruslah dijemput dengan yakin. Tapi, perasaan ini berhubungan dengan hati. Memang mudah diucapkan, tapi sangat sulit diamalkan.
Pengalaman kecil tadi, mengajarkan diri akan pentingnya menjaga hati. Ketika hati dibiarkan hingga dicuri hati yang lain, maka bersiaplah terpenjara dalam rasa yang terlampau sulit diungkapkan dengan kata. Rasa yang kadang melawan logika, rasa yang membuat tidur tak nyenyak makan tak enak, rasa yang memadukan bahagia dan gelisah, berani dan takut, juga antara harap dan cemas. Beruntunglah yang mendapati rasa ini sebagai anugrah, merugilah jika mendapatinya sebagai musibah.
Saya mulai tertarik dengan lawan jenis saat duduk di bangku SD (sekolah dasar). Meski belum paham dengan apa yang namanya cinta, secara naluri seorang anak laki-laki ingin dekat dengan anak perempuan dan sebaliknya. Nah, naluri itulah yang membuat saya jatuh cinta pada seorang wanita. Haha, cinta monyet kali!
Jaman saya SD, anak-anak masih punya malu bergaul dengan lawan jenis. Jika seorang teman kedapatan suka pada teman lainnya, maka akan menjadi bahan olok-olok di kelas. Berbeda dengan anak jaman sekarang. Mereka malah berani mengumumkan rasa cinta pada teman wanitanya.
Karena takut diolok-olok, maka cinta di jaman saya selalu terpendam dalam hati. Tak ada yang berani bilang terang-terangan suka sama si A atau B. Andaipun ada yang tahu, sebagian besar hanya teman dekat dengan janji untuk dirahasiakan. Begitu juga yang terjadi pada cinta saya ^^
Hari ini satu Muharram 1436 Hijriah. Hampir semua orang berlomba-lomba membahas tentang hijrah. Katanya ini momen terbaik untuk hijrah dari kehidupan lama ke hidup yang lebih baru. Hidup penuh semangat dan motivasi. Hidup yang penuh manfaat buat diri dan orang lain.
Tapi, pada catatan kali ini ijinkan saya bercerita tentang hijrah cinta. Khusus untuk mereka yang sulit move on, patah hati, atau terlanjur berharap lebih. Sungguh, banyak mata yang tak bisa terpejam di malam hari karena virus ini. Ada ribuan hati yang tertawan setelah bercengkrama dengan pernak-pernik cinta. Juga tak terhitung jutaan jiwa yang kehilangan semangat hidup sebab bermain dengan rasa yang seharusnya menjadi nikmat.
Hari Sial --> Suatu malam, karena satu dan lain hal, saya dan seorang
teman terkunci di luar kontrakan. Akibatnya kami tak bisa masuk padahal malam
semakin larut. Setelah berunding, akhirnya saya memilih kembali ke kosan baru. Sedangkan
teman, dia memutuskan menunggu teman lainnya yang membawa kunci.
Sayang, teman yang ditunggu tak kunjung datang. Akhirnya dia
tidur di tangga depan kontrakan berteman nyamuk, bising, dan udara yang dingin.
Tentu kejadian ini melahirkan dongkol dalam hati. Membuat diri merasa sial dan
bertanya-tanya, mengapa harus begini?
Beruntung, sebelum rasa dongkol menyelimuti hati, Allah
kirimkan “tamu” untuk ingatkan diri. Sepasang suami istri beserta seorang anak
yang “mesra” memulung, mengais sampah untuk bertahan hidup.
Di taman hati, terlihat hati sedang sibuk bermain Berkutat handphone butut mengirim “pesan hati” Kepada pemilik hati, di taman hati lainnya
Di taman hati, Tiba-tiba handphone berdering menggetarkan hati Pemilik hati tersenyum menawan hati Bukan karena isi pesan, tapi pengirim dari hati Padahal pemilik hati tak sadari “Pesan hati” itu dikirim ke banyak hati Yang semuanya berpikiran seperti pemilik hati Andaikan pemilik hati sadari Niscaya hatinya akan kecewa meratapi Merasa dikhianati