Berbagilah walau satu rupiah! Bersedekah meski hanya seuntai senyum! Bersedekah, berbagi, dan bahagia ^^

The Power Of Love

Jakarta saat ini sedang musim hujan. Hampir setiap hari dia datang menyapa. Kadang di waktu siang, tapi lebih banyak ketika senja berganti malam.

Hujan identik dengan cinta dan kerinduan. Saat hujan kembali mengguyur, banyak orang terbawa rindu. Bagitupun dengan cinta, kadang hujan menjadi ujian yang berat untuk membuktikan cinta.

Satu malam, di tengah hujan yang mengguyur tanpa ampun, saya berteduh di samping gerobak penjual nasi goreng. Saat itu saya melihat seorang ibu mendorong gerobak berisi jualannya. Pemandangan ini membuat saya terdiam lama. Menghayati betapa kekuatan cinta seorang ibu begitu dahsyatnya. Cinta seorang ibu tak pernah kalah oleh badai maupun hujan. Untuk anak-anaknya, semua menjadi ringan dan mudah. Saat itu saya hanya bisa memberikan senyum terbaik yang dimiliki bibir, ditambah doa untuk kemudahan urusan beliau.

Pernah, ketika hendak ke masjid, saya melihat seorang ibu bersama dua anak mendorong gerobak sampah. Anak yang kecil duduk dalam gerobak, sedangkan yang lebih tua berjalan di samping ibu. Dalam wajah yang berhias lelah, ibu itu tetap tersenyum dan bercanda dengan anak-anaknya. Seakan kesusahan yang melanda bukan halangan untuk bahagia.

Saya selalu kagum dengan penjual asongan dan pemulung. Di tengah para pengemis yang berpenghasilan jutaan, mereka tetap teguh berprinsip untuk tidak meminta. Sekali-kali kawan, belilah asongan meskipun kurang butuh. Terlebih yang menjual seorang ibu berusia tua atau kakek-kakek lansia. Hitung-hitung sedekah untuk membantu mereka dalam prinsip tak meminta.

Tiga bulan di Jakarta mengajarkan saya banyak hal. Salah satunya adalah kenikmatan untuk bersyukur dengan hidup yang sederhana ini. Di sini kawan, banyak yang mencari hidup dari apa yang sering kita buang.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hambaNya yang pandai bersyukur. Sebab orang yang tak pandai bersyukur takan pernah bisa untuk bahagia.


Share This Article


6 comments:

  1. Benar sob, saya lebih suka membeli produk pedagang yang teguh tak tergoda untuk mengemis, dari pada ngasih ke pengemis yang hampir tidak asing saking rutinnya mereka melewati daerah operasinya.

    Saya punya teman pengusaha sukses, yg dulu suka tidur di gerobak dan ibunya mendorong gerobak tersebut. Tak ada yg tak mungkin bagi mereka yang terus berikhtiar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul Kang.. jika terus berusaha dan berdoa, insyaAllah bisa!

      Delete
  2. Subhanallah. Mksh buat pengalaman dan nasehat.
    Smga Allah selalu menjagaku dan kita untuk selalu menjadi orang2 yang pandai bersyukur.

    ReplyDelete
  3. Subhanallah... Saya sendiri adalah seorang ibu. Setelah membaca tulisan ini, jadi ikut terenyuh.

    "Seakan kesusahan yang melanda bukan halangan untuk bahagia." >> suka sekali dengan kalimat ini :)

    Baarakallahu fiikum

    ReplyDelete