Berbagilah walau satu rupiah! Bersedekah meski hanya seuntai senyum! Bersedekah, berbagi, dan bahagia ^^

Jendela HaTi


Seperseribu detik mataku dan matamu bertemu, ijin dan bantulah aku untuk menunduk. Bukannnya tak ingin, bukan pula tak cinta. Namun aku ingin cinta ini tumbuh di bawah naungan yang Maha Pemilik cinta, Maha Mencintai yang tak pernah terputus cintaNya, Dialah Allah subhanahu wa ta'ala.

Sahabatku, untaian kata di atas terinspirasi dari seorang yang “terpaksa” aku “benci”, karena cintaku padanya hampir membuatku terjerumus ke lembah nista, pacaran. Bahkan cinta itu hampir melalaikan hati dari mencintai Sang Maha Pemilik cinta.


Sahabatku, terus terang aku sangat mencintainya, bahkan sangat tergila-gila padanya. Dia megitu cantik mempesona dan hatinya pun selembut salju. Sempurna, ya dia begitu sempurna di mataku. Setiap terjadi pertemuan diantara kami, aku selalu ingin menatapnya.

Sahabatku, satu yang “membahagiakanku” pada waktu itu adalah dia juga sering menatapku. Akupun tak kuasa untuk tidak membalas tatapannya. Saling tatap tak dapat dielakkan lagi. Dua mata bertemu, dua hati bersapa dalam bisu. Getaran-getaran halus timbul-tenggelam dalam dada. Dunia seakan melambat. Semua seperti tak ada, yang ada hanya aku dan dia yang saling bertatapan. Oh, indahnya masa itu.

Sahabatku, hal itu terus berlanjut disetiap pertemuan kami. Dan itu sangat membahagiakanku. Menurutku (pada waktu itu) tiada masa atau saat yang paling indah kecuali saat-saat pertemuan dengannya. Menikmati tatapan matanya, mengagumi kecantikan wajahnya, meresapi keindahan akhlaknya. Sahabat, sungguh sangat indah..

Sahabatku, namun seiring berjalannya waktu, aku mulai merasakan ada yang aneh dalam hatiku. Rasa tak tenang dan sering melamun mewarnai hidupku. Ibadah makin tak khusyuk, shalat seadanya yang penting tunai kewajiban, dan baca Quran pun semakin jarang. Padahal dulunya aku tak seperti ini. Aku merasa ada yang hilang dari hati ini. Sesuatu yang tak dapat dijelaskan dengan kata. Sesuatu yang begitu indah. Sehingga aku pun mulai mencari-cari dan merenungi mengapa hal ini terjadi? Mengapa sesuatu itu hilang?

Sahabatku, ternyata setelah merenung sedemikian dalam aku menyadari bahwa sesuatu yang hilang tadi adalah kebahagian. Dan tahukah kamu bahwa yang paling dicari dalam kehidupan ini adalah kebahagian itu sendiri. Lalu, kebahagian itu akan ada bila hati kita dalam kondisi tenang. Nah dari mana munculnya ketenangan? Tak lain dan tak bukan ketenangan itu berbanding lurus dengan sejauh mana uasaha kita untuk dekat dengan Sang Maha Pemilik Ketenangan. Ya betul, ketenangan akan ada bila kita dekat dengan Allah تعالى.

Betul sahabat! Saat bertemu dengannya, menatap matanya, dan mengagumi kecantikannya adalah hal yang membahagiakanku. Tapi itu hanya sementara. Paling lama hanya 5 menit. Sedangkan 1435 menit sisanya akan terisi dengan kegelisahan. Gelisah jika ia berbuat demikian dengan lelaki lain, gelisah jika dia hanya mempermainkan aku, gelisah jika terjadi apa-apa dengannya, serta kegelisahan-kegelisahan yang tidak wajar lainnya.

Sahabatku, oleh kerena itu akhirnya aku putuskan untuk tidak lagi mengejar kebahagian semu itu. Kebahagian yang berlandaskan nafsu, kebahagian yang menipu, dan juga kebahagian yang melenakan. Aku ingin bahagia dengan caraku yang dulu. Bahagia yang bersumber dari hati. Bahagia kerena dekat dengan Sang Maha Pemilik kebahagian.

Sahabat, semenjak itu pula aku berusaha untuk menundukkan pandanganku. Sejak saat itu tak ada lagi getaran-getaran halus akibat bertemunya dua bola mata. Tak ada lagi saling tatap. Tak ada lagi sapa dalam bisu. Sehingga dengan demikian kenikmatan kebahagian yang dulu dapat aku rasakan kembali. Kebahagian dan ketenangan yang tak dapat digambarkan. Ketenangan akibat dekat dengan Allah subhanahu wa ta'ala. Sehingga shalatku kembali khusyuk, baca Quran menjadi rutin, dan amalan-amaln lainnya menjadi terpacu.

Sahabatku, ada yang ingin aku sampaikan dibalik kesuksesanku untuk kembali. Semua itu tak lepas dari rahmat Allah subhanahu wa ta'ala dengan jalan sahabat-sahabat yang tak pernah lelah untuk saling menasehati. Sahabat yang setia mengingatkan disaat salah. Sahabat seperjuangan. Untuk itu sahabatku, janganlah pernah salah dalam memilih sahabat. Kerena sahabatlah yang akan berpengaruh besar dalam hidupmu. Bukankah seseorang itu dilihat dengan siapa ia berteman? Nah, untuk itu pandai-pandailah memilih sahabat, sahabatku...

Sahabatku, cerita ini belum berakhir. Ternyata orang yang aku cintai itu masih terus menatapku bila kami bertemu. Seakan-akan ia ingin masa yang kelam itu terulang lagi. Karena aku manusia biasa, maka sekali-kali aku juga tak kuasa mencuri pandang padanya. Sejurus kemudian getaran-getaran halus itu timbul lagi. Beruntung aku selalu dapat menguasai diri. Aku menunduk kembali. Namun meskipun begitu aku sangat terusik dengan tingkah lakunya itu. Tingkahnya yang terus menatap aku. Sungguh aku sangat tersiksa...

Sahabatku, karena aku takut terjerumus lagi ke masa yang kelam itu, maka aku berinisiatif menuliskan surat kepadanya. Beginilah isi surat itu..

Asalamua alaikum..
Ukhti.. melalui surat ini, aku sampaikan permohonan maafku, karena telah menemanimu dalam aktifitas yang terlarang, aktifitas yang membuatmu menuai dosa. Maafkan aku, sungguh aku sangat menyesal. Aku berjanji tak akan mengulanginya lagi.

Ukhti.. terus terang aku sangat mencintaimu, mengagumimu, dan menyayangimu. Oleh karena itu aku tak mau kau terjerumus dalam perbuatan dosa. Untuk itu ku mohon padamu untuk menundukan pandanganmu. Aku telah memulai tapi kamu masih saja menatapku.

Ukhti.. ku katakan padamu, bahwa tatapanmu itu sungguh sangat menggoda. Selalu aku takluk dibuatnya. Sehingga itu sekali lagi aku mohon dengan sangat.. tundukanlah pandanganmu.. bantulah diriku ini.. tolonglah aku.. tolong dalam menjaga iman yang sedang tumbuh ini. Jangan malah sebaliknya, kau pangkas tunasnya dengan belati tatapanmu... atau kau panah dengan busur matamu... sungguh aku mohon.

Ukhti... sekali lagi, di mataku kau begitu sempurna. Aku tak mau ada hubungan apa-apa denganmu kecuali hubungan itu halal. Cukuplah aku berteman denganmu. Tak lebih. Berteman seperti aku berteman dengan teman-teman lainnya. Tak ada kata spesial. Dan kuharap kau pun demikian. Maka dari itu berhentilah menatapku.

Ukhti... aku berharap dapat menjalin hubungan denganmu dalam ikatan suci pernikahan, bukan pacaran. Tapi itu nanti. Setelah aku sanggup melakukannya. Nah, jika kaupun demikian, maka penuhilah permintaanku ini. Tundukanlah pandanganmu. Untuk itu juga teruslah memperbaiki diri kerena aku pun akan berbuat demikian. Aku akan terus berusaha sekuat tenaga memperbaiki diriku yang masih jauh dari sempurna ini. Agar kita menjadi pasangan serasi nantinya. Karena bukankah lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik dan begitulah sebaliknya wanita yang baik hanya untuk lelaki yang baik? Nah baiklah, selamat berusaha.

Ukhti... hanya inilah yang ingin kusampaikan. Mohon maaf apabila ada kata yang kurang berkenan. Terimakasih telah bersedia membaca surat ini. Wasalam.

Tak perlu dibalas.

Sahabatku, tahukah kamu apa yang terjadi setelah itu? Ya tepat seperti dugaanmu, dia membalas surat itu. Namun dapatkah kau menebak isinya? Ha ha ha.. tak perlu pusing memikirkannya, nih aku tuliskan balasan suratnya..

Asalamu alaikum
Ha ha ha, Eh kalo jadi orang itu jangan terlalu PD ya.., aku tidak pernah merasa sering menatapmu, mungkin kau saja yang terlalu GR.. ha ha ha.

Eh, kalaupun aku sering menatapmu, itu mungkin karena mukamu aneh tau.. eh maaf cuma bercanda... he he he.

Tapi sebetulnya aku memang sering menatapmu, tapi tak ada rasa apa-apa dihatiku. Sekedar memandang saja, tak lebih. Maaf ya jika membuatmu salah pengertian..
Ya, iya deh, sejak sekarang aku tidak akan menatapmu lagi. Tapi ku tekankan lagi bahwa aku tidak ada rasa apa-apa terhadap kamu. Dan tak ada rencana menikah denganmu.. ha ha ha.
wasalam.

Sahabatku, dapat kau tebak bagaimana hatiku setelah menerima surat itu. Hatiku remuk redam, hancur bak disambar petir. Seketika itu mukaku berubah lesu, tak ada gairah, tak ada semangat hidup. Dunia seakan terus menghimpit hatiku yang semakin perih ini. Oh sahabatku, sungguh hatiku sangat sakit.

Namun sahabatku, disaat-saat seperti itu aku teringat untaian kata yang pernah membuatku terdiam dan tersadar akan hakikat dalam mencinta. Untaian kata itu adalah,
Sahabat...
Tahukah engkau?
Manakala engkau telah merasa mencintai seseorang
Itu sama artinya engkau t'lah menghamba padanya?
Sadarkah dirimu?
Manakala engkau tahu ia tidak mencintaimu
Itu artinya ia menunjuk pada kekuranganmu?
Tidak terfikirkah olehmu?
Jika yang kau harap saja tidak bisa mencintaimu
Apalagi Yang Menciptakannya?
***

Itulah untaian kata yang membuatku terdiam dan merenung. Semoga untaian kata itu, juga memberikan warna baru dalam hidupmu wahai sahabatku.

Semoga bermanfaat.

*kisah nyata yang difiktifkan atau kisah fiktif yang terinspirasi dari kisah nyata.


Share This Article


5 comments:

  1. Memandang sudut pandang cinta dari sudut yang berbeda.

    Hingga membuat saya tidak tahu lagi harus menuliskan apa di post ini.

    Jarang sekali seseorang menulis se indah ini.

    Thanks atas apresiasinya Mas, salam persahabatan dari Jember.

    ReplyDelete
  2. udah baca dari atas sampe bawah, banyak lagi... eh endingnya jangan Ge eR yaa hehehe..
    tapi emang bener sih, seperti apa kita, seperti itupula sahabat kita. minimal kurang lebih lah ^_^

    ReplyDelete
  3. ending ceritanya kok gitu ya?? hehehe di kira si cewek juga punya perasaan yang sama tapi ternyata,,,, hemzz

    ReplyDelete