Berbagilah walau satu rupiah! Bersedekah meski hanya seuntai senyum! Bersedekah, berbagi, dan bahagia ^^

Gadis Remaja Yang Menyebrang Jalan (Bagian Ketiga)

Ramadhan telah berlalu entah beberapa bulan yang lalu, bahkan beberapa pekan lagi dia akan kembali berkunjung. Namun entah kenapa, kenangan tentang gadis yang menyebrang jalan pada Ramadhan tahun lalu itu, masih terus melekat dan menghiasi pikiran.

Bukan karena kecantikan atau ketertarikan kami kepada si gadis, sekali lagi tidak. Namun.. karena dalam peristiwa atau kejadian itu, banyak hikmah yang dapat dipetik dan diresapi.


Bagi yang telah membaca dua tulisan sebelumnya pasti mengerti dengan apa yang kami sampaikan ini. Nah.. sekarang dalam tulisan yang ketiga ini, kami punya sebuah renungan lagi, yang mungkin bisa bermanfaat bagi kita semua.

Memang.. saat pertama kali melihat gadis itu, ada kecewa yang menyelimuti hati.. 

kecewa karena penampilan gadis itu yang memamerkan auratnya kepada orang yang tak berhak melihatnya. Memamerkan sesuatu yang berharga dari dirinya. Memamerkan apa yang seharusnya ditutupi.

Namun.. dengan berakhirnya Ramadhan (tahun lalu) itu, kekecewaan kami pada gadis itu semakin bertambah. Mengapa?

Pasalnya.. Setelah Ramadhan berlalu, gadis itu tidak lagi terlihat menyebrang jalan menuju masjid. Padahal perintah shalat tidak hanya di Ramadhan saja, melainkan disepanjang hayat. Terlebih.. hukuman bagi yang meninggalkan shalat jauh lebih berat dari hukuman menampakkan aurat. Bukankah pembeda antara seorang muslim dan kafir adalah shalatnya? Jadi saat ia meninggalkan shalat maka dikhawatirkan ia menjadi seorang yang kafir.

Memang dalam hal ini para ulama telah berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa mereka yang meninggalkan shalat dihukumi sebagai orang kafir, dan sebagian lagi mengatakan mereka tidak kafir tetapi fasik. 

Terlepas dari perbedaan pendapat itu, apakah pantas bagi seorang hamba yang telah diberi berbagai nikmat, dikaruniakan berbagai kemudahan, untuk mengabaikan perintah Tuhannya?

Bukankah Allah telah memberikan kita waktu sebanyak 24 jam dalam sehari?! Namun kenapa setengah jam saja terasa sangat berat diluangkan untuk shalat menghadapNya?!

Apakah itu balasan yang setimpal untuk segala nikmat yang Dia karuniakan pada kita?!


Sebagai seorang hamba, seharusnya hati ini senantiasa rindu pada Dzat yang telah menciptakan dan memberikan banyak nikmat. Dan seharusnya pula, selalu ingin berjumpa denganNya, bukan saja hanya lima waktu, namun juga menambah pada waktu-waktu lainnya (Shalat malam, Dhuha, dll). Semoga Allah membukakan hati kita untuk itu.

Kembali kegadis tadi.. kami hanya mengingatkan tentang kesimpulan bahwa gadis itu tidak shalat adalah sangkaan semata. Mungkin saja gadis itu tak terlihat lagi menyebrang jalan menuju mesjid karena ia shalat dirumahnya. Dan itu menurut yang kami ketahui adalah lebih afdhal (utama) baginya.

Namun jika sangkaan itu adalah benar, maka kami hanya bisa berpesan padanya: "Wahai gadis dan orang-orang yang semisalnya.. Ketahuilah bahwa Tuhan yang kau sembah dibulan Ramadhan tak pergi seiring dengan berlalunya Ramadhan. Karena Dia adalah Maha Hidup dan takan mati. Dialah menciptakan bulan Ramadhan, Dia pula-lah yang menciptakan bulan Syawal dan lainnya. Jangan sampai kau hanya menjadi penyembah bulan Ramadhan dan melupakan Pencipta bulan Ramadhan. Sembahlah Dia disepanjang hayatmu sampai maut datang menjemput. Shalatlah sebelum engkau dishalatkan.

Terakhir.. kami ingin mengutip sebuah pesan singkat yang begitu menyentuh hati bagi orang-orang yang masih memiliki hati. Bunyi pesan itu adalah:

Semua orang pasti ingin bahagia. Namun tak semua dari mereka mendapatkan kabahagian yang diinginkan itu.

Bahagia itu senantiasa ada dalam ketenangan. Karena kebahagian selalu berbanding lurus dengan ketenangan hati. Dan ketenangan hati takan ada kecuali dengan mengingat Allah. "..Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang" (QS ArRa'd 28)

Nah, dengan apa kita mengingat Allah? 

Salah satunya adalah dengan shalat, "..Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku" (QS Thaahaa 14) 

Kawan.. Shalat adalah tiang agama, jadi jika kau ingin menghancurkan agama maka tinggalkanlah shalat. 

Tapi ingat.. Tanpamu ISLAM tetap akan Jaya dan tanpa shalatmu Allah tetap dan senantiasa akan menjadi Tuhan. 

Ingatlah.. ISLAM dan SHALAT ada bukan untuk Allah, tapi untukmu agar kau bahagia dunia akhirat. Untuk itu shalatlah sebelum dishalatkan.# 

Artikel Terkait:



Share This Article


3 comments: